AKTIVITAS
HARIAN RUSA SAMBAR (Rusa unicolor)
DI
PENANGKARAN MENDALO INDAH
RESSY RAHMAWATI
D1D013054

JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Jenis satwa liar pun memiliki
mekanisme dalam menghadapai keadaan lingkungan yang selalu berubah. Secara
biologis mereka mempunyai system untuk menyesuaikan diri. Kehidupan dari satwa
liar dapat terganggu apabila habitatnya mengalami perubahan akibat adanya
aktivitas atau pembangunan yang sangat menggangu disekitarnya. Hal ini
disebabkan oleh satwa mempunyai sensitivitas yang kuat terhadap terjadinya
perubahan lingkungan habitatnya. Perubahan atau gangguan terhadap habitat
menyebabkan adanya pergerakan satwa untuk menghindar. Menurut Alikodra (1990),
pergerakan satwa merupakan suatu strategi dari individu maupun populasi satwa
liar untuk menyesuaikan dan memanfaatkan keadaan lingkungannya agar dapat hidup
dan berkembang biak secara normal. Pergerakan dalam skala sempit maupun luas
merupakan usaha untuk memenuhi tuntutan hidupnya.
Tingkah laku
hewan adalah ekspresi suatu hewan yang ditimbulkan oleh semua faktor yang
mempengaruhinya, baik faktor dari dalam maupun dari luar yang berasal dari
lingkungannya. Untuk praktisnya, tingkah laku dapat diartikan
sebagai gerak-gerik organisme. Sehingga perilaku merupakan perubahan gerak
termasuk perubahan dari bergerak menjadi tidak bergerak sama sekali atau
membeku, dan perilaku hewan merupakan gerak-gerik hewan sebagai respon terhadap
rangsangan dalam tubuhnya dengan memanfaatkan kondisi lingkungannya.
Satwa liar memiliki berbagai perilaku
dan proses fisiologi untuk menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan. Dalam
mempertahankan hidup, rusa melakukan kegiatan-kegiatan yang agresif, melakukan
persaingan, dan bekerjsama untuk mendapat makanan, perlindungan, pasangan untuk
kawin, reproduksi dan sebagainya. Semua jenis rusa secara alami memiliki sifat
yang selalu waspada. Pada saat rusa terganggu, biasanya mata dan telinga
tertuju pada sumber gangguan. Semakin Rusa merasa terancam atau terganggu, maka
kaki depan terlihat dihentakkan ke tanah, bulu di sekujur tubuh berdiri, dan
diakhiri dengan mengeluarkan suara lengkingan sambil terus melarikan diri. Pada
saat ketakutan, rusa timor akan lebih suka melarikan diri dengan sikap kepala
yang menyeruduk.
Rusa
Sambar (Cervus unicolor) merupakan satwa
liar yang memiliki juga memiliki proses fisiologi untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungannya. Rusa sambar juga merupakan jenis
rusa yang besar dan mempunyai kaki yang panjang, warna kulit dan rambut
coklat tua, bagian perut berwarna lebih gelap sampai kehitam-hitaman, rambut
kaku, kasar dan pendek. Berat badan bervariasi antara 185 – 260 kg dengan
tinggi badan 140 – 160 cm. Jantan dewasa memiliki rambut surai yang panjang dan
lebat di bagian leher dan atas kepala. Rusa Sambar mencapai dewasa kelamin pada umur 8 bulan
dan dapat hidup hingga umur 11 tahun. Periode gestasi 7 bulan dan interval
gestasi mencapai 1,5 tahun (Jacoeb dan Wiryosuhanto, 1994). Ada kecenderungan
anak jenis rusa sambar yang berasal dari India dan Sri langka merupakan yang
terbesar dan tertinggi (Awal et al., 1992, Lewis et al., 1990).
Oleh
karena itu, diadakan nya pengamatan lebih lanjut tentang aktivitas atau
perilaku keseharian dari satwaliar tersebut, dalam praktikum ini adalah Rusa
Sambar.
1.2
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum kali
ini adalah sebagai berikut :
·
Mengetahui aktivitas
harian Rusa Sambar di penangkaran Mendalo
·
Mengamati
aktivitas harian Rusa Sambar di penangkaran Mendalo
·
Mengetahui
kecendrungan aktivitas harian Rusa Sambar di penangkaran Mendalo
BAB II
METODELOGI
2.1 Lokasi dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan pada hari
Rabu, 7 September 2016 Pukul 10.00 WIB sampai dengan selesai. Bertempat di
penangkaran rusa sambar Mendalo Indah.
2.2 Bahan dan alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah rusa sambar (Cervus
unicolor ) di penangkaran, Sedangkan alat yang digunakan adalah alat tulis dan alat dokumentasi.
2.3 Jenis dan cara pengambilan
data
Berdasarkan
sumber, data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Dimana parameter
data primer tersebut meliputi perilaku satwa dalam waktu pengamatan yang dilakukan
seperti makan, minum, istirahat, gooming,kawin, dan ekskresi. Sedangkan data
sekunder yang diambil meliputi kondisi umum tempat penangkaran. Adapun data yang dikumpulkan
berdasarkan tipe penelitian adalah data
kuantitatif (numerik) dan kualitatif
(fenomena yang diamati). Cara pengambilan data yang dilakukan adalah sebagai
berikut :
·
Langsung,. Penghitungan ini dilakukan
dengan cara pengamat berjalan dalam waktu tertentu untuk mengidentifikasi perilaku
keseharian rusa.
·
Wawancara, Dilakukan secara langsung
dengan metode tanya-jawab dengan pihak pengelola penangkaran.
·
Dokumentasi, dilakukan secara langsung
dengan pengambilan gambar rusa sambar serta lingkungan penangkaranya.
2.4 Analisis Data
Analisis data yang dilakukan meliputi perilaku rusa primer tersebut meliputi aktivitas satwa dalam waktu pengamatan yang dilakukan
seperti makan, minum, istirahat, gooming,kawin, dan ekskresi. Sebagai berikut:
a.
Makan, dengan menganalisis total waktu aktivitas
pengamatan keseharian rusa dengan total waktu rusa makan saat pengamatan serta
jenis pakan nya.
b.
Minum, dengan menganalisis total waktu aktivitas
pengamatan keseharian rusa dengan total waktu rusa minum saat pengamatan serta sumbernya.
c.
Istirahat, dengan menganalisis total
waktu aktivitas pengamatan keseharian rusa dengan total waktu rusa istirahat saat
pengamatan serta tempat istirahat nya.
d.
Grooming, dengan menganalisis total
waktu aktivitas pengamatan keseharian rusa dengan total waktu rusa grooming
(menggesek ranggah) saat pengamatan serta tempat rusa grooming.
e.
Ekskresi, dengan menganalisis total
waktu aktivitas pengamatan keseharian rusa dengan total waktu rusa eksresi saat
pengamatan.
f.
Kawin, dengan menganalisis total waktu aktivitas
pengamatan keseharian rusa dengan total waktu rusa kawin saat pengamatan.
PERSENTASE:



3.2 Pembahasan
Setelah
dilakukan pengamatan aktivitas Rusa Sambar yang berada di penangkaran Mendalo,
diketahui bahwa aktivitas Rusa Sambar yang paling banyak adalah makan dan
istirahat. Hal ini dapat dilihat dari persentase aktivitas makan secara
keseluruhan adalah istirahat sebesar 68% serta aktivitas lain nya 16% disusul
oleh makan yaitu 12% gooming 1,5%, minum 0%, eksresi )%, dan kawin tidak
ditemukan. Perilaku makan rusa tidak terlalu signifikan karena makanan rusa
yangt belum memadai. Hal ini dapat dilihat dari rumput kesukaan rusa yang tidak
banyak tersedia. Hal ini sam dengan Takatsuki (1980),
perilaku makan seekor rusa akan berbeda berdasarkan komposisi pakan dan
perbedaan tipe habitat. Pakan utama rusa adalah rumput dan daun –daunan yang
mengandung protein dan energi. Sedangkan ransum ( dedak) ditambahkan pada
makanan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan gizi
rusa tersebut.
Menurut Masy’ud
(2007), aktivitas berbaring dilakukan untuk berteduh dan berlindung dari teriknya
sinar matahari pada siang hari, dan untuk menjaga kestabilan suhu tubuh. Pada
saat dilakukan pengamatan, aktivitas berisitirahat dengan berbaring dan duduk
banyak dilakukan pada siang hari dimana saat itu sedang hujan. Hal itu sesuai
dengan teori yang dikemukakan oleh Masy’ud dimana aktivitas beristirahat dengan
berbaring dilakukan untuk menlindungi diri dari cuaca dan menstabilkan suhu
tubuh. Hal ini sesuai dengan pengamatan, dimana perilaku
berbaring atau istirahat rusa rata-rata berteduh di bawah pohon.
Dari
pengamatan ternyata aktivitas bergerak lebih banyak di lakukan oleh
rusa muda, rusa jantan dan yang paling rendah adalah rusa betina. Menurut
Wulandari (2007), perilaku bergerak dengan berjalan biasa dilakukan rusa untuk
berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, umumnya dari satu areal
vegetasi ke areal vegetasi lainnya untuk mencari makan, atau untuk mencari
tempat berlindung yang lebih aman akibat adanya gangguan.
Dalam
penangkaran eksitu, Rusa Sambar telah banyak beradaptasi terhadap lingkungan
sekitar. Hal ini dapat dilihat dari Rusa Sambar yang tidak terlalu takut di
didekati oleh manusia.Hal ini sesuai dengan pendapat (Garsetiasih,
2004) bahwa dari hasil penelitian-penelitian yang telah banyak
dilakukan ternyata rusa sambar memiliki adaptasi yang tinggi dengan
lingkungannya sehingga mudah untuk ditangkarkan.
Rusa Sambar telah lama
ditangkarankan dari
data pengamatan, di dapati bahwa jumlah rusa jantan dewasa merupakan yang
terbanyak yaitu 7
ekor dan anakan 1 ekor.
Sedangkan rusa betina dewasa dan remaja betina yang ada di penangkaran
masing-masing 1 ekor. Hal ini di sebabkan Pada saat bereproduksi rusa
betina kebanyakan menghasilkan rusa
jantan. Dan jumlah individu yang mati sejak tahun 2000 sampai sekarang di
perkirakan 10 ekor. Kematian pada rusa kebanyakan diakibatkan terkena tanduk
pada saat masa-masa ingin kawin (berebut pasangan). Dan ada 3 ekor rusa yang
lepas dari penangkaran. Sehingga dapat diperkirakan jumlah total rusa yang
hanya 4 ekor rusa saat penangkaran mulai didirikan tahun 2000 sampai sekarang
(2016) menjadi lebih dari 20 ekor. Hal ini juga menyiratkan tentang
kecenderungan perkembangan rusa di penangkaran Mendalo ,yaitu terjadi
peningkatan populasi dari 4 ekor menjadi 20 ekor dalam 16 tahun. Jumlah
individu yang pertama, mati dan lepas dari penangkaran diketahui dari para
pengelola rusa sambar. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian oleh Puslit
Biologi LIPI bahwa rusa tersebut mempunyai reproduktifitas yang rendah dan
kematian pra sapih yang tinggi. (Semiadi, 2001).
Saat pengamatan dilakukan, terdapat
pembangunan rumah disekitar kandang. Hal ini juga dapat menggangu penangkaran
rusa tersebut. Dimana suatu keberhasilan suatu usaha konservasi ditentukan oleh
sikap masyarakat yang ada di dalam atau di sekitar tempat kegiatan
(Soerianegara, 1997). Sikap penduduk yang positif dapat mempengaruhi tingkah
dan tindakannya (Soekamto dan Winataputra, 1997).
BAB IV
KESIMPULAN
Satwa
liar memiliki berbagai perilaku atau
aktivitas dan proses fisiologi untuk menyesuaikan
diri dengan keadaan lingkungan. Salah satu
satwaliar yang dapat diamati aktivitasnya yaitu Rusa Sambar.
Setelah diamati di penangkaran, aktivitas keseharian
rusa sambar meliputi makan, minum, istirahat, grooming, minum, eksresi, kawin
serta aktivitas lainnya. Dari keseluruhan aktivitas tersebut, aktivitas yang
paling sering di lakukan oleh rusa jantan maupun betin adalah istirahat,
kemudian melakukan aktivitas lainya, makan, grooming, dan eksresi. Tidak
ditemukan rusa kawin dan minum. Aktivitas-aktivitas tersebut pun hampier sama
dengan penelitian-penelitian sebelumnya mengenai rusa.
DAFTAR
PUSTAKA
Alikondra, S. 1990. Pengelolaan Satwa
Liar, jilid I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Ilmu Hayati. Institut pertanian bogor.Bogor
Anderson, R.
1984. Deer farming in Australia. In: Deer Refresher CourseProceedings no. 72.
Sydney: University of
Sydney.
Ariantiningsih,
F. 2000. System Perburuan dan Sikap Masyarakat Terhadap Usaha-Usaha Konservasi
Rusa Dipulau Rumberpon Kecamatan Ransiki Kabupaten Manokwari (skripsi).
Universitas Cendrawasih. Manokwari.
Awal. A, N.J
sarker and K.Z Husain. 1992. Breeding Record of Sambar Deer (Cervus unicolor)
in Captivity. Bangladesh jounal of zoology 20: 285-290.
Cornwell-Smith, M.J.
1981. Farming deer in Britain and New Zealand. Span Vol. 24.
hal: 12-15.
Conservation International, 1999.
Mengenai Keanekaragaman Hayati. Irian jaya.
Garsetiasih,
R., N. Herlina. 2004. Evaluasi Plasma Nutfah Rusa Totol (Axis axis) di
Halaman Istana Bogor.
Imelda.
2004. Tingkah Laku Sosial Rusa Sambar (Cervus unicolor Equinus) di
Balai Raya Semarak Bengkulu. Skripsi. Program Studi Produksi Ternak Jurusan
Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu. 96 hal.
Jacoeb, T.N. dan Wiryosuhanto,
S.D. 1994. Prospek Budidaya Ternak Rusa. Kanisius, Yogyakarta.
Lewis, J.C.,
L.B. Flynn, R.L. Marchinton, S.M. Shea, and E.M.Marchinton.1990. Part I.
Introduction, study area description and literature review.In: Ecology
of sambar on St. Vincent National Wildlife Refugee. Florida.Tall Timbers
Research Station. Tallahassee Bulletin 25: 1-12
Semiadi, G.
1998. Pola kelahiran Rusa timorensis di Nusa Tenggara Timur. Hayati 5:
22-24.
Semiadi, G
and R.T.P. Nugraha, 2004. Panduan Pemeliharaan Rusa Tropis. Bogor: Pusat
Penelitian Biologi LIPI.
Schmitd, A.M., Hess, D.L., Schmidt,
M.J., Smith, R.C. dan Lewis, C.R. 1988. Serum concentrations of
oestradiol and progesterone, and sexual behavior during the normal oestrous
cycle in the leopard (Panthera pardus). Journal of Reproduction
and Fertility Vol. 82. hal: 43-49.
https://www.academia.edu/19024398/PENGAMATAN_PERILAKU_HEWAN_PERILAKU_RUSA_TIMOR_Cervus_Timorensis_ (Di akses 19 September 2016)

LAMPIRAN
FOTO
|
||||||
![]() |
![]() |
|||||
|
|
||||||


Tidak ada komentar:
Posting Komentar