Kamis, 02 Maret 2017

Laporan rusa

AKTIVITAS HARIAN RUSA SAMBAR (Rusa unicolor)
DI PENANGKARAN MENDALO INDAH




RESSY RAHMAWATI
D1D013054













JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Jenis satwa liar pun memiliki mekanisme dalam menghadapai keadaan lingkungan yang selalu berubah. Secara biologis mereka mempunyai system untuk menyesuaikan diri. Kehidupan dari satwa liar dapat terganggu apabila habitatnya mengalami perubahan akibat adanya aktivitas atau pembangunan yang sangat menggangu disekitarnya. Hal ini disebabkan oleh satwa mempunyai sensitivitas yang kuat terhadap terjadinya perubahan lingkungan habitatnya. Perubahan atau gangguan terhadap habitat menyebabkan adanya pergerakan satwa untuk menghindar. Menurut Alikodra (1990), pergerakan satwa merupakan suatu strategi dari individu maupun populasi satwa liar untuk menyesuaikan dan memanfaatkan keadaan lingkungannya agar dapat hidup dan berkembang biak secara normal. Pergerakan dalam skala sempit maupun luas merupakan usaha untuk memenuhi tuntutan hidupnya.
Tingkah laku hewan adalah ekspresi suatu hewan yang ditimbulkan oleh semua faktor yang mempengaruhinya, baik faktor dari dalam maupun dari luar yang berasal dari lingkungannya. Untuk praktisnya, tingkah laku dapat diartikan sebagai gerak-gerik organisme. Sehingga perilaku merupakan perubahan gerak termasuk perubahan dari bergerak menjadi tidak bergerak sama sekali atau membeku, dan perilaku hewan merupakan gerak-gerik hewan sebagai respon terhadap rangsangan dalam tubuhnya dengan memanfaatkan kondisi lingkungannya.
Satwa liar memiliki berbagai perilaku dan proses fisiologi untuk menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan. Dalam mempertahankan hidup, rusa melakukan kegiatan-kegiatan yang agresif, melakukan persaingan, dan bekerjsama untuk mendapat makanan, perlindungan, pasangan untuk kawin, reproduksi dan sebagainya. Semua jenis rusa secara alami memiliki sifat yang selalu waspada. Pada saat rusa terganggu, biasanya mata dan telinga tertuju pada sumber gangguan. Semakin Rusa merasa terancam atau terganggu, maka kaki depan terlihat dihentakkan ke tanah, bulu di sekujur tubuh berdiri, dan diakhiri dengan mengeluarkan suara lengkingan sambil terus melarikan diri. Pada saat ketakutan, rusa timor akan lebih suka melarikan diri dengan sikap kepala yang menyeruduk.
              Rusa Sambar (Cervus unicolor) merupakan satwa liar yang memiliki juga memiliki proses fisiologi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Rusa sambar juga merupakan jenis rusa yang besar dan mempunyai  kaki yang panjang, warna kulit dan rambut coklat tua, bagian perut berwarna lebih gelap sampai kehitam-hitaman, rambut kaku, kasar dan pendek. Berat badan bervariasi antara 185 – 260 kg dengan tinggi badan 140 – 160 cm. Jantan dewasa memiliki rambut surai yang panjang dan lebat di bagian leher dan atas kepala. Rusa Sambar mencapai dewasa kelamin pada umur 8 bulan dan dapat hidup hingga umur 11 tahun. Periode gestasi 7 bulan dan interval gestasi mencapai 1,5 tahun (Jacoeb dan Wiryosuhanto, 1994). Ada kecenderungan anak jenis rusa sambar yang berasal dari India dan Sri langka merupakan yang terbesar dan tertinggi (Awal et al., 1992, Lewis et al., 1990).
              Oleh karena itu, diadakan nya pengamatan lebih lanjut tentang aktivitas atau perilaku keseharian dari satwaliar tersebut, dalam praktikum ini adalah Rusa Sambar.

1.2              Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
·         Mengetahui aktivitas harian Rusa Sambar di penangkaran Mendalo
·         Mengamati aktivitas harian Rusa Sambar di penangkaran Mendalo
·         Mengetahui kecendrungan aktivitas harian Rusa Sambar di penangkaran Mendalo








BAB II
METODELOGI

2.1              Lokasi dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 7 September 2016 Pukul 10.00 WIB sampai dengan selesai. Bertempat di penangkaran rusa sambar Mendalo Indah.

2.2       Bahan dan alat
Bahan  yang digunakan dalam  praktikum ini adalah rusa sambar (Cervus unicolor ) di penangkaran, Sedangkan alat yang digunakan adalah alat tulis dan alat dokumentasi.

2.3              Jenis dan cara pengambilan data
Berdasarkan sumber, data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Dimana parameter data primer tersebut meliputi perilaku satwa dalam waktu pengamatan yang dilakukan seperti makan, minum, istirahat, gooming,kawin, dan ekskresi. Sedangkan data sekunder yang diambil meliputi kondisi umum tempat penangkaran.  Adapun data yang dikumpulkan berdasarkan tipe penelitian adalah  data kuantitatif  (numerik) dan kualitatif (fenomena yang diamati). Cara pengambilan data yang dilakukan adalah sebagai berikut :
·         Langsung,. Penghitungan ini dilakukan dengan cara pengamat berjalan dalam waktu tertentu untuk mengidentifikasi perilaku keseharian rusa.
·         Wawancara, Dilakukan secara langsung dengan metode tanya-jawab dengan pihak pengelola penangkaran.
·         Dokumentasi, dilakukan secara langsung dengan pengambilan gambar rusa sambar serta lingkungan penangkaranya.

2.4         Analisis Data
Analisis data yang dilakukan meliputi perilaku rusa primer tersebut meliputi aktivitas satwa dalam waktu pengamatan yang dilakukan seperti makan, minum, istirahat, gooming,kawin, dan ekskresi. Sebagai berikut:
a.       Makan, dengan menganalisis total waktu aktivitas pengamatan keseharian rusa dengan total waktu rusa makan saat pengamatan serta jenis pakan nya.
b.      Minum, dengan menganalisis total waktu aktivitas pengamatan keseharian rusa dengan total waktu rusa minum saat pengamatan serta sumbernya.
c.       Istirahat, dengan menganalisis total waktu aktivitas pengamatan keseharian rusa dengan total waktu rusa istirahat saat pengamatan serta tempat istirahat nya.
d.      Grooming, dengan menganalisis total waktu aktivitas pengamatan keseharian rusa dengan total waktu rusa grooming (menggesek ranggah) saat pengamatan serta tempat rusa grooming.
e.       Ekskresi, dengan menganalisis total waktu aktivitas pengamatan keseharian rusa dengan total waktu rusa eksresi saat pengamatan.
f.       Kawin, dengan menganalisis total waktu aktivitas pengamatan keseharian rusa dengan total waktu rusa kawin saat pengamatan.
































PERSENTASE:


3.2       Pembahasan
Setelah dilakukan pengamatan aktivitas Rusa Sambar yang berada di penangkaran Mendalo, diketahui bahwa aktivitas Rusa Sambar yang paling banyak adalah makan dan istirahat. Hal ini dapat dilihat dari persentase aktivitas makan secara keseluruhan adalah istirahat sebesar 68% serta aktivitas lain nya 16% disusul oleh makan yaitu 12% gooming 1,5%, minum 0%, eksresi )%, dan kawin tidak ditemukan. Perilaku makan rusa tidak terlalu signifikan karena makanan rusa yangt belum memadai. Hal ini dapat dilihat dari rumput kesukaan rusa yang tidak banyak tersedia. Hal ini sam dengan Takatsuki (1980), perilaku makan seekor rusa akan berbeda berdasarkan komposisi pakan dan perbedaan tipe habitat. Pakan utama rusa adalah rumput dan daun –daunan yang mengandung protein dan energi. Sedangkan ransum ( dedak) ditambahkan pada makanan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan gizi  rusa tersebut.
Menurut Masy’ud (2007), aktivitas berbaring dilakukan untuk berteduh dan berlindung dari teriknya sinar matahari pada siang hari, dan untuk menjaga kestabilan suhu tubuh. Pada saat dilakukan pengamatan, aktivitas berisitirahat dengan berbaring dan duduk banyak dilakukan pada siang hari dimana saat itu sedang hujan. Hal itu sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Masy’ud dimana aktivitas beristirahat dengan berbaring dilakukan untuk menlindungi diri dari cuaca dan menstabilkan suhu tubuh. Hal ini sesuai dengan pengamatan, dimana perilaku berbaring atau istirahat rusa rata-rata berteduh di bawah pohon.
Dari pengamatan ternyata aktivitas bergerak lebih banyak di lakukan oleh rusa muda, rusa jantan dan yang paling rendah adalah rusa betina. Menurut Wulandari (2007), perilaku bergerak dengan berjalan biasa dilakukan rusa untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, umumnya dari satu areal vegetasi ke areal vegetasi lainnya untuk mencari makan, atau untuk mencari tempat berlindung yang lebih aman akibat adanya gangguan. 
Dalam penangkaran eksitu, Rusa Sambar telah banyak beradaptasi terhadap lingkungan sekitar. Hal ini dapat dilihat dari Rusa Sambar yang tidak terlalu takut di didekati oleh manusia.Hal ini sesuai dengan pendapat (Garsetiasih, 2004) bahwa dari hasil penelitian-penelitian yang telah banyak dilakukan ternyata rusa sambar memiliki adaptasi yang tinggi dengan lingkungannya sehingga mudah untuk ditangkarkan.
Rusa Sambar telah lama ditangkarankan dari data pengamatan, di dapati bahwa jumlah rusa jantan dewasa merupakan yang terbanyak yaitu 7 ekor dan anakan 1 ekor. Sedangkan rusa betina dewasa dan remaja betina yang ada di penangkaran masing-masing 1 ekor. Hal ini di sebabkan Pada saat bereproduksi rusa betina  kebanyakan menghasilkan rusa jantan. Dan jumlah individu yang mati sejak tahun 2000 sampai sekarang di perkirakan 10 ekor. Kematian pada rusa kebanyakan diakibatkan terkena tanduk pada saat masa-masa ingin kawin (berebut pasangan). Dan ada 3 ekor rusa yang lepas dari penangkaran. Sehingga dapat diperkirakan jumlah total rusa yang hanya 4 ekor rusa saat penangkaran mulai didirikan tahun 2000 sampai sekarang (2016) menjadi lebih dari 20 ekor. Hal ini juga menyiratkan tentang kecenderungan perkembangan rusa di penangkaran Mendalo ,yaitu terjadi peningkatan populasi dari 4 ekor menjadi 20 ekor dalam 16 tahun. Jumlah individu yang pertama, mati dan lepas dari penangkaran diketahui dari para pengelola rusa sambar. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian oleh Puslit Biologi LIPI bahwa rusa tersebut mempunyai reproduktifitas yang rendah dan kematian pra sapih yang tinggi. (Semiadi, 2001).
Saat pengamatan dilakukan, terdapat pembangunan rumah disekitar kandang. Hal ini juga dapat menggangu penangkaran rusa tersebut. Dimana suatu keberhasilan suatu usaha konservasi ditentukan oleh sikap masyarakat yang ada di dalam  atau di sekitar tempat kegiatan (Soerianegara, 1997). Sikap penduduk yang positif dapat mempengaruhi tingkah dan tindakannya (Soekamto dan Winataputra, 1997).







BAB IV
KESIMPULAN

Satwa liar memiliki berbagai perilaku atau aktivitas dan proses fisiologi untuk menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan. Salah satu satwaliar yang dapat diamati aktivitasnya yaitu Rusa Sambar.
Setelah diamati di penangkaran, aktivitas keseharian rusa sambar meliputi makan, minum, istirahat, grooming, minum, eksresi, kawin serta aktivitas lainnya. Dari keseluruhan aktivitas tersebut, aktivitas yang paling sering di lakukan oleh rusa jantan maupun betin adalah istirahat, kemudian melakukan aktivitas lainya, makan, grooming, dan eksresi. Tidak ditemukan rusa kawin dan minum. Aktivitas-aktivitas tersebut pun hampier sama dengan penelitian-penelitian sebelumnya mengenai rusa.
















DAFTAR PUSTAKA

Alikondra, S. 1990. Pengelolaan Satwa Liar, jilid I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Ilmu Hayati. Institut pertanian bogor.Bogor 
Anderson, R. 1984. Deer farming in Australia. In: Deer Refresher CourseProceedings no. 72. Sydney: University of Sydney.           

Ariantiningsih, F. 2000. System Perburuan dan Sikap Masyarakat Terhadap Usaha-Usaha Konservasi Rusa Dipulau Rumberpon Kecamatan Ransiki Kabupaten Manokwari (skripsi). Universitas Cendrawasih. Manokwari.

Awal. A, N.J sarker and K.Z Husain. 1992. Breeding Record of Sambar Deer (Cervus unicolor) in Captivity. Bangladesh jounal of zoology 20: 285-290.

Cornwell-Smith, M.J.  1981.  Farming deer in Britain and New Zealand.  Span Vol. 24.  hal: 12-15.
Conservation International, 1999. Mengenai Keanekaragaman Hayati. Irian jaya.
Garsetiasih, R., N. Herlina. 2004. Evaluasi Plasma Nutfah Rusa Totol (Axis axis) di Halaman Istana Bogor.

Imelda.  2004.  Tingkah Laku Sosial Rusa Sambar (Cervus unicolor Equinus) di Balai Raya Semarak Bengkulu.  Skripsi.  Program Studi Produksi Ternak Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.  96 hal.
Jacoeb, T.N. dan Wiryosuhanto, S.D.  1994.  Prospek Budidaya Ternak Rusa.  Kanisius, Yogyakarta.
Lewis, J.C., L.B. Flynn, R.L. Marchinton, S.M. Shea, and E.M.Marchinton.1990. Part I. Introduction, study area description and literature review.In: Ecology of sambar on St. Vincent National Wildlife Refugee. Florida.Tall Timbers Research Station. Tallahassee Bulletin 25: 1-12 
Semiadi, G. 1998. Pola kelahiran Rusa timorensis di Nusa Tenggara Timur. Hayati 5: 22-24.

Semiadi, G and R.T.P. Nugraha, 2004. Panduan Pemeliharaan Rusa Tropis. Bogor: Pusat Penelitian Biologi LIPI.

Schmitd, A.M., Hess, D.L., Schmidt, M.J., Smith, R.C. dan Lewis, C.R.  1988.  Serum concentrations of oestradiol and progesterone, and sexual behavior during the normal oestrous cycle in the leopard (Panthera pardus).  Journal of Reproduction and Fertility Vol. 82.  hal: 43-49.


























20160907_103541.jpg20160907_103607.jpgLAMPIRAN FOTO
Keterangan : Rusa jantan yang sedangan diam beristirahat dibawah pepohonan
 
20160907_103912.jpg 20160907_103820.jpg
Keterangan : gerombolan rusa yang sedang beristrihat dan berjalan
 
 

























Tidak ada komentar:

Posting Komentar