LAPORAN PRAKTIKUM MANAJEMEN SATWA LIAR DAN DINAMIKA
POPULASI
“Analisis
Dan Evaluasi Habitat Rusa Di Penangkaran Mendalo: Aspek Pakan Dan Pelindung
(Shelter Dan Cover)”
Disusun
Oleh :
Ressy Rahmawati (D1D013054)
Kelas B Semester VI
Dosen
Pengampu:
Drs. Asrizal Paiman, M.Si
Novriyanti, S.Hut, M.Si
Cory Wulan, S.Hut, M.Si

JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016
ABSTRAK
Analisis dan evaluasi habitat rusa
di penangkaran Mendalo kali ini bertujuan untuk mengetahui aspek pakan dan
pelindung (shelter dan cover). Ketersediaan kedua nya sangat mempengaruhi
kondisi rusa di penangkaran. Parameternya dapat dilihat dari jenis-jenis pakan
rusa yang tersedia, pengelolaan pakan, daya dukung pakan rusa, karakteristik
dan jenis pelindung, fungsi masing-masing jenis pelindung, pengelolaan
pelindung, serta kecukupan pelindung dan kegiatan pengelolaannya. Dari
pengamatan tersebut diketahui bahwa jenis-jenis pakan yang tersedia alami yaitu
rumput gajah, kawat-kawatan, dan rumput kalijono. Pengelolaan pakan masih
kurang memadai dimana tidak adanya pengeloaan yang dilakukan pada rumput pakan
di penangkaran serta efensiensi pemberian pakan tambahan oleh pengelola juga
mempengaruhi daya dukung pakan rusa tersebut. Sedangkan karakteristik dan jenis
pelindung sendiri di dominasi Pulai, Gaharu, Medang, Pelangas, Durian, Bacang,
Kayu kacang-kacang, Terap, Leban, Mengkirai dan Berumbung dan lainya. kondisi
pelindung tersebut bervariasi yaitu baik, terganggu, maupun rusak. Kecukupan
pelindung di penangkaran inipun belum tercukupi. Dimana pohon yang termasuk ke
dalam kategori cover hanya sedikit. Sehingga pengelolaan pakan maupun pelindung
di penangkaran ini masih kurang memadai.
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Upaya konservasi satwa belakangan ini semakin sering
untuk dilakukan. Salah satu nya adalah dengan melakukan penangkaran satwa dalam
habitat buatan. Seperti yang kita ketahui, kondisi habitat akan mempengaruhi
satwa yang berada di dalamnya.
Habitat
merupakan sebuah tempat atau kawasan terdiri dari komponen biotik maupun
abiotik yang merupakan satu kesatuan dan dimanfaatkan sebgai tempat hidup dan
berkembang biak. Satwa tinggal di habitat yang sesuai dengan lingkungan yang
diperlukan untuk menopang keberadaanya serta kelangsungan hidupnya, habitat sendiri
mempunyai fungsi menyediakan makanan, air dan pelindung. Tipe habitat sendiri
adalah kumpulan komponen sejenis pada suatu habitat yang mendukung sekumpulan
jenis satwa liar untuk melakukan
berbagai aktivitas. Identifikasi tipe habitat yang diperlukan suatu satwa
didapat dari pengamtan fungsinya, sebagai contoh untuk berkembang biak maupun untuk
makan. Struktur vegetasi berperan sebagai pengaturan ruang hidup dan dengan
unsur utama yaitu : bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk.
Penyebaran rusa sambar yang merupakan satwa asli
Indonesia dapat ditemui di pulau Kalimantan dan pulau Sumatera. Penyebaran rusa sambar terdapat di semua tipe
habitat hutan Kalimantan. Satwa ini sangat menyukai habitat hutan sekunder
untuk mencari makan. Sedangkan pada habitat hutan primer digunakan oleh rusa
sambar sebagai ruang pergerakan atau perlindungan. Selain di Indonesia, habitat
Rusa sambar juga dijumpai di India dan sejumlah negara di Asia Tenggara dengan
populasi di habitat asli nya yang mulai menurun.
Informasi
sebaran rusa sambar dan habitat rusa pada penangkaran rusa Mendalo belum banyak
di ketahui. Oleh sebab itu pratikum ini penting untuk dilakukan.
1.2 Tujuan
praktikum
Adapun tujuan dari
praktikum kali ini adalah :
·
Mempelajari serta menganalisis
karakteristik dan jenis pelindung di penangkaran rusa Mendalo
·
Mengetahui dan menganalisis fungsi dari
masing-masing jenis pelindung serta pengelolaan pelindung tersebut di
penangkaran rusa Mendalo
·
Mengidentifikasi serta mengevaluasi
kecukupan pelindung serta kegiatan pengelolaannya
·
Mengamati dan mengetahui jenis-jenis
pakan rusa yang tersedia di penangkaran rusa Mendalo
·
Untuk mempelajari pengelolaan pakan rusa
di penangkaran rusa Mendalo
·
Mengevaluasi dan mengidentifikasi daya dukung pakan rusa
di penangkaran rusa Mendalo
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Habitat Rusa Sambar
Habitat dapat
di artikan sebuah tempat yang terdiri dari komponen fisik maupun abiotik yang
merupakan satu kesatuan dan dimanfaatkan oleh satwa sebagai tempat beraktivitas
serta berkembang biaknya. Kualitas
suatu habitat memperlihatkan daya dukung lingkungan untuk memberikan
kondisi khusus tepat untuk individu dan populasi secara terus menerus. Kualitas
habitat tersebut dihimpun sebagai kemampuan untuk memberikan sumber daya untuk
bertahan hidup, reproduksi,dan kelangsungan hidup secara berkelanjutan. Para ilmuwan
umumnya menyamakan kualitas habitat yang tinggi dengan menonjolkan vegetasi
yang memiliki kontribusi terhadap suatu spesies satwa. Komponen habitat yang dapat bermanfaat
bagi kehidupan kehidupan satwa liar terdiri dari pakan,pelindung, air serta
ruang.
Rusa sambar adalah hewan asli dari Indonesia yang merupakan salah satu
kekayaan sumberdaya alam hayati nusantara dan harus dilestarikan. Penyebaran
rusa sambar di Indonesia di antaranya terdapat di pulau Kalimantan dan pulau
Sumatera. Habitat sebaran rusa sambar ini terdapat di semua tipe habitat hutan
Kalimantan. Habitat hutan sekunder merupakan habitat yang paling disukai oleh
satwa ini untuk mencari makan. Rusa sambar merupakan satwa yang dilindungi oleh pemerintah.
Hal ini di sebabkan oleh penurunan jumlah populasi rusa yang berada di habitat
alami. Penurunan ini dikarenakan adanya tekanan maupun kerusakan di habitat
alami rusa sambar.
Keberadaan rusa sambar sangat
tergantung dengan kondisi habitatnya. Kerusakan habitat akan menghilangkan
beberapa jenis tumbuhan yang dimanfaatkan rusa sebagai sumber pakan, serta
menghilangkan susunan pohon sebagai tempat berlindung serta persembunyian dan
ruang untuk perkembangbiakan. Rusaknya habitat tersebut juga akan mempengaruhi
sebaran populasinya dikarena kan rusa sambar ini cenderung akan memilih habitat
yang jauh dari keberadaan manusia. Pembukaan kawasan untuk perkebunan,
pertanian dan pemukiman telah menjadikan membuat rusaknya habitat rusa sambar
tersebut.
Oleh sebab itu,
maka perlu adanya penangkaran terhadap rusa sambar untuk melestarikan rusa
sambar tersebut. Rusa juga merupakan satwa yang sangat produktif karena
dapat bereproduksi tiap tahun serta mempunyai tingkat produksi yang cukup besar
dengan persentase yang lebih tinggi dibandingkan satwa lain. Perkawinan antara
rusa jantan dan betina dapat menghasilkan individu baru yang berkembang itulah
menjadi suatu populasi.
2.2
Pelindung Rusa (cover)
Pelindung bagi rusa
merupakan suatu lokasi yang dijadikan rusa sebagai tempat berlindung dari cuaca
buruk ataupun tempat istirahat bagi satwa. Areal bagi satwa untuk mencari
makan, berlindung, bermain dan berkembangbiak yang biasa disebut habitat. Pengelolaan
pelindung (Cover) Kebutuhan perlindungan dari terik matahari, hujan dan
pemangsa, sangat dibutuhkan satwa. Untuk itu diperlukan pengetahuan tentang
pola penggunaan ruang setiap spesies satwa. Pengelolaan cover berkaitan erat
dengan pengaturan vegetasi. Selain itu perlu diketahui juga tentang preferensi
habitat setiap spesies satwa. Kegiatan yang mungkin dilakukan dalam pengelolaan
pelindung misalnya peningkatan jumlah pohon peneduh yang dibutuhkan oleh satwa.
Dalam perbaikan habitat memerlukan pengkajian terhadap aspek penyebab kerusakan
habitat dan daya dukung habitat yang dibutuhkan oleh setiap satwa.
2.3
Makanan Rusa sambar
Makanan merupakan
sesuatu yang dapat diberikan maupun di dapat oleh satwa sebagai sumber energi
dan zat-zat gizi. Rusa merupakan hewan herbivora pemakan rumput, kadang rusa
juga memakan dedaunan, serta menyukai berbagai macam bunga yang berjatuhan dan
buah-buahan dari pohon – pohon di hutan. Selama musim hujan, suatu jenis rumput
serta alang-alang merupakan sumber pakan utama.
Makanan rusa sambar
yang dipelihara di penangkaran biasanya sangat bervariasi Selain makanan yang
mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan air, rusa juga membutuhkan mineral.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan, mineral bermanfaat sebagai
pembentuk tulang, gigi, rambut, kuku, dan ranggah, pembentukkan jaringan lunak
dan sel darah, penyeimbang tekanan osmosis cairan tubuh, pembentukan enzim,
hormon, dan bagian komponen vitamin. Pada tingkat komersil, kekurangan unsur
mineral dapat dihindari dengan pemberian mineral dalam bentuk bongkahan atau
disebut sebagai mineral blok. Hewan yang kekurangan unsur mineral akan dengan
sendirinya menjilati bongkahan tersebut.
BAB
III
METODE
PRAKTIKUM
3.1 Lokasi dan Waktu
Praktikum ini
dilaksanakan pada hari Senin, 29 Februari 2016 Pukul 13.00 WIB sampai dengan
selesai. Bertempat di penangkaran rusa sambar Mendalo Indah.
3.2
Bahan dan alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah jenis-jenis
rumput yang ada di rusa sambar (Cervus unicolor
) di penangkaran, Sedangkan alat yang digunakan adalah buku
identifikasi jenis rumput, patok, kamera digital, tali, sekop, timbangan, tambang,
meteran, ,dan alat tulis.
3.2 Jenis dan
cara pengambilan data
Berdasarkan sumber, data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder.
Dimana parameter data primer tersebut meliputi jenis pakan yang
dimakan rusa, pengelolaan pakan, karakteristik pelindung, kondisi pelindung,
fungsi pelindung, serta pengelolaan pelindung tersebut . Sedangkan data
sekunder yang diambil meliputi kondisi umum tempat penangkaran. Adapun data
yang dikumpulkan berdasarkan tipe penelitian adalah data kuantitatif (numerik) dan kualitatif (fenomena yang
diamati). Cara pengambilan data yang dilakukan adalah sebagai berikut :
Inventarisasi,
Penghitungan jumlah Rusa sambar dilakukan dengan metode pengamatan berjalan.
Penghitungan ini dilakukan dengan cara pengamat berjalan untuk mengidentifikasi
jenis
pakan yang dimakan rusa, pengelolaan pakan, karakteristik pelindung, kondisi
pelindung, fungsi pelindung, serta pengelolaan pelindung tersebut secara
langsung.
Wawancara, Dilakukan secara langsung dengan metode tanya-jawab dengan pihak
pengelola penangkaran.
Dokumentasi, dilakukan secara langsung dengan pengambilan gambar rusa sambar serta
lingkungan penangkaranya.
3.3 Analisis
Data
Analisis data yang dilakukan meliputi meliputi jenis
pakan yang dimakan rusa, pengelolaan pakan, karakteristik pelindung, kondisi
pelindung, fungsi pelindung, serta pengelolaan pelindung tersebut, Sebagai berikut:
a.
Jenis
pakan rusa dan pengelolaan pakan, dengan menganalisis
per plot jumlah total pakan yang dimakan oleh rusa di dapat dari jumlah
rata-rata jenis pakan yang tersedia di penangkaran. Sedangkan pengelolaan pakan
dianalisis dari hasil wawancara dengan pihak pengelola penangkaran dan upaya
pengelolaan pakan yang dilakukan di penangkaran.
b.
Karakteristik
pelindung dan kondisi pelindung, dapat di analisis
dengan membuat profil pohon serta proyeksi tajuknya. Data yang diambil dalam
observasi tersebut untuk membuat profil dan proyeksi tajuk meliputi tinggi
total, tinggi bebas cabang, bentuk tajuk, panjang tajuk, dan lebar tajuk. Sedangkan kondisi pelindung dapat
di analisis dengan melihat kondisi pelindung dan mengkategorikannya dalam penilaian baik,
terganggu, dan rusak.
c.
Fungsi
pelindung dan pengelolaan pelindung, Dapat di analisis
dengan mengamati penggunaannya oleh rusa sambar
di penangkaran dan fungsi setiap pohon dapat digolongkan dengan shelter,
cover, atau tidak digunakan. Sedangkan pengelolaan pelindung dianalisis dari
hasil wawancara dengan pihak pengelola penangkaran dan upaya pengelolaan yang
ada di penangkaran.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tabel 4.1 Jenis-jenis rumput yang
terdapat di Penangkaran Rusa Mendalo
Hari/Tanggal : Senin, 29 Februari 2016
Waktu :
13.00 sampai dengan selesai
|
No
|
Jenis
rumput
|
Pakan/
bukan
|
Jumlah
individu pada plot ke-
|
Total
|
%
Penutupan lahan
|
||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
Plot
|
Individu
|
||||
|
1
|
Senduduk-sendudukan
|
Bukan
|
~
|
~
|
~
|
~
|
|
|
|
|
2
|
Rumput
teki
|
Pakan
|
~
|
~
|
~
|
~
|
|
|
|
|
3
|
Kawat-kawatan
|
Pakan
|
~
|
~
|
~
|
~
|
|
|
|
|
4
|
Rumput
gajah
|
Pakan
|
~
|
~
|
~
|
~
|
|
|
|
|
5
|
Rumput
kolojono
|
Pakan
|
~
|
~
|
~
|
~
|
|
|
|
|
6
|
Unknown
Spesies 1
|
Bukan
|
~
|
~
|
~
|
~
|
|
|
|
|
7
|
Unknown
spesies 2
|
Bukan
|
~
|
~
|
~
|
~
|
|
|
|
Keterangan: ~ = Tak terhingga
2. Ada 4 jenis yang
menjadi sumber pakan rusa, yaitu rumput jenis kawat-kawatan, rumput gajah, rumpu
teki dan rumput kolojono.
Tabel 4.2 Kondisi pelindung (shelter dan
cover) di Penangkaran RusaHari/ Tanggal : Senin, 29 Februari 2016
|
No
|
Jenis
|
Tinggi
|
DBH
k(cm)
|
Tajuk
|
K
|
F
|
||||
|
TT
|
TBc
|
Pj
|
Pd
|
Ort
|
Ls
|
|||||
|
1
|
Pulai
|
8
|
6
|
87,5
|
2m
|
1,5
|
Lurus
|
3m
|
Rusak
|
Shelter
|
|
2
|
Karet
|
10
|
4,3
|
160
|
2m
|
-
|
Barat
|
4m
|
Terganggu
|
Shelter
|
|
3
|
A
|
6,5
|
4,5
|
64
|
2m
|
2m
|
Miring
|
4m
|
Rusak
|
Shelter
|
|
4
|
B
|
9,5
|
6,5
|
84,1
|
3m
|
1m
|
Lurus
|
4,5
|
Baik
|
Shelter
|
|
5
|
Terap
|
10,5
|
3,5
|
85,5
|
6m
|
8m
|
Lurus
|
48m
|
Baik
|
Shelter
|
|
6
|
Rambutan
hutan
|
12
|
7
|
69
|
5m
|
6m
|
Barat
|
30m
|
Terganggu
|
Shelter
|
|
7
|
Karet
|
11
|
4
|
121
|
7m
|
4m
|
Timur
laut
|
28m
|
Baik
|
Cover
|
|
8
|
Jambu-jambu
|
11
|
3
|
140
|
8m
|
6m
|
Lurus
|
48m
|
Baik
|
Cover
|
|
9
|
Rambutan
|
12
|
4
|
108
|
5m
|
5m
|
Lurus
|
25m
|
Baik
|
Shelter
|
|
10
|
Karet
|
14
|
4,3
|
120
|
9,7
|
6
|
Lurus
|
58,2
|
Baik
|
Shelter
|
|
11
|
Terap
|
11
|
8
|
68
|
1m
|
1m
|
Lurus
|
1m
|
Rusak
|
Shelter
|
|
12
|
Nangka
|
12
|
3
|
118
|
4m
|
12
|
Lurus
|
108
|
Baik
|
Shelter
|
|
13
|
Pulai
|
11
|
4,5
|
98
|
2m
|
3m
|
Lurus
|
6m
|
Terganggu
|
Shelter
|
|
14
|
Terap
|
10
|
7
|
68
|
2m
|
2m
|
Lurus
|
4m
|
Baik
|
Shelter
|
|
15
|
Marapuyan
|
7
|
5
|
77
|
3m
|
3m
|
Lurus
|
9m
|
Rusak
|
Shelter
|
|
16
|
C
|
10
|
2,5
|
74
|
7,5
|
4m
|
Lurus
|
30m
|
Baik
|
Shelter
|
|
17
|
Mangga
|
12
|
3
|
69
|
9m
|
6m
|
Lurus
|
54m
|
Baik
|
Shelter
|
|
18
|
Karet
|
11
|
5
|
78
|
7m
|
4m
|
Barat
|
28m
|
Terganggu
|
Shelter
|
|
19
|
Pulai
|
19
|
14
|
171
|
5m
|
4m
|
Lurus
|
20m
|
Terganggu
|
|
Keterangan: TT (tinggi total); TBc
(tinggi bebas cabang); DBH (diameter pohon setinggi dada); Pj (tajuk
terpanjang); Pd (lebar tajuk/ yang tegak lurus); Ort (arah orientasi tajuk); Ls
(luas tajuk); K = kondisi (baik, terganggu, rusak); F = fungsi (cover, shelter)
Tabel 4.3 Pengelolaan pelindung di
penangkaran rusa sambar Mendalo
|
No.
|
Nama
kegiatan, Uraian, dan Tingkat Keberhasilan
|
|
1
|
Pembebasan cabang atau ranting
pohon, dimana cabang-cabang atau ranting-ranting yang
telah banyak di tebang agar tidak mengganggu pohon lain. Tingkat keberhasilan
kegiatan ini rendah. Karena penebangan tidak dilakukan secara rutin
|
|
2
|
Pemungutan cabang atau ranting
pohon, dimana pemungutan dilakukan ketika banyak ranting
dan cabang di pohon yang terjatuh atau tidak terlepas sempurna sehingga dapat
menggangu pertumbuhan pelindung. Tingkat keberhasilan nya pun rendah. Karena
pemungutan tidak dilakukan secara rutin.
|
|
3
|
Penanaman bibit pohon, penanaman
bibit pohon diharapkan akan dapat menjadi cover di kemudian hari. Tingkat
keberhasilan kegiatan ini pun rendah. Hal ini dikarenakan kurang terawatnya
bibit yang telah ditanam dan bibit yang ditanam tersebut daunya telah dimakan
atau terinjak oleh rusa sehingga bibit menjadi rusak.
|
|
4
|
Pembersihan gulma atau tanaman
pengganggu, dimana gulma atau tanaman penganggu
yang berada disekitar pelindung dapat menyebabkan terganggu nya pelindung dan
persaingan dalam perebutan unsur hara.
Sehingga perlu dilakukan pembersihan. Namun tingkat keberhasilan nya pun
rendah mengingat upaya ini tidak dilakukan secara berkelanjutan.
|
Pemetaan
Pohon/ Vegetasi Pelindung (Shelter dan Cover) di Penangkaran Rusa Mendalo

4.2
Pembahasan
Setelah dilakukan analisis
dan evaluasi, maka di dapat hasil tentang aspek pakan serta pelindung pada
penangkaran rusa sambar di Mendalo.
Aspek
Pakan
Jenis pakan yang
dimanfaatkan oleh rusa yang berada di dalam penangkaran maupun yang di berikan
adalah jenis rumput gajah, kolojono, teki, dan kawat-kawatan. Adapun jenis lain
namun bukan pakan yang ditemukan salah satunya yaitu senduduk, senduduk tidak dapat
dimakan rusa karena dapat menyebabkan diare pada rusa. Dengan perbandingan
lebih banyak ditemukan rumput yang tidak dapat dijadikan pakan.
Rumput pakan
biasanya akan banyak saat musim hujan karena saat musim hujan pertumbuhan
rumput lebih cepat serta memiliki
kandungan air yang tinggi. Permasalahan pakan yang sering muncul ketika musim
kemarau karena rumput cenderung tumbuh lebih sedikit di tambah lagi
rumput-rumput tersebut memiliki kadar air yang rendah. Sedangkan rusa cenderung menyukai pakan
rumput yang memiliki kadar air yang tinggi seperti rumput basah. Jumlah rumput-rumputan jumlah nya ada yang banyak
(pengamatan dilakukan pada saat musim hujan) Namun masih termasuk kategori
sedikit dengan perbandingan rusa yang ada. Kondisi tutupan lahan pun tidak
tersebar merata atau tidak seimbang. Hanya pada titik-titik tertentu yang
tertutupi sempurna. Sehingga produksivitas
rumput untuk pakan rusa di dalam penangkaran rusa sambar mendalo yang tersedia
belum memadai. Hal ini disebabkan ketika rumput pakan yang baru saja tumbuh langsung
dimakan oleh rusa sambar dan tidak adanya perawatan yang lebih lanjut pada
pakan rumput yang tersedia. Hal ini menjadi salah satu aspek pengelolaan pakan
yang perlu ditingkatkan.
Pihak
pengelola menambahkan pakan rumput agar kebutuhan rumput tercukupi, apabila
kebutuhan pakan tidak tercukupi maka dapat membuat rusa kelaparan bahkan
menyebabkan kematian. Hal ini sesuai dengan peniliti sebelumnya yang mengatakan
bahwa pakan merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan perkembangan satwa (Jacoeb dan Wiryosuhanto 1994). Menurut
pengelola kebutuhan rumput bagi rusa idealnya antara empat sampai enam karung
per hari. Hal inilah yang membuat rumput yang dapat dijadikan pakan di dalam penangkaran
cepat habis sehingga pihak pengelola memberikan rumput tambahan sebanyak 3 kali
sehari dan pakan tambahan yaitu bungkil 2 kilogram dan dedak 8 kilogram. Selain
menambah pakan, bungkil dan dedak dapat menambah variasi makanan rusa serta
gizi yang di didapat. Pada saat hujan pemberian pakan terhambat karena
dilakukan setelah hujan berhenti sedangkan pada musim panas rumput dengan kadar
air tinggi jarang di ditemukan serta persaingan dalam perebutan pakan karena rusa
jantan yang lebih lebih banyak dari betina. Dan Pihak pengelola hanya membawa pakan
rumput yang ambil hanya menggunakan tangan tanpa bantuan alat. Hal ini
menyebabkan tidak efisiennya pengambilan dan pemberian pakan. Ideal nya
pengelolaan pakan ini perlu tambahan alat seperti gerobak saat pengangkutan
pakan dan perbandingan jumlah jantan dan betina pun juga perlu di seimbangkan serta adanya perawatan pakan rumput
dalam peangkaran yang dilakukan.
Aspek
Pelindung
Dalam inventarisasi
yang dilakukan, rusa sambar cenderung menjadikan pelindung sebagai tempat
bernaung saat matahari terik ataupun saat hujan. Terdapat spesies pelindung
yang ditemukan di penangkaran rusa Mendalo cukup banyak antara lain adalah
karet, pulai, nangka, terap, rambutan hutan, jambu-jambu, medang, marapuyan,
dan mangga. Jenis tersebut menunjukan cukup bervariasi nya jenis pelindung.
Kondisi
pelindung tersebut bervariasi, ada yang memiliki kondisi baik,terganggu, dan
ada juga yang rusak. Dari hasil yang ditemukan dilapangan, sebagian besar
pelindung dalam kondisi baik. Namun dalam kondisi rusak maupun terganggu juga
lumayan banyak. Karakteristik pelindung dapat dilihat pada profil pohon serta
proyeksi tajuknya, Diukur dengan membuat profil pohon serta proyeksi tajuknya.
Dari hasil analisis langsung, dapat dilihat bahwa pelindung dengan spesies
pulai memiliki tinggi pohon yang paling tinggi dan diameter terlebar. Namun
karena kondisi pulai tersebut dalam keadaan terganggu, pulai tersebut masih
termasuk kategori shelter. Sedangkan kategori yang termasuk cover hanya
ditemukan pada spesies jambu-jambu dan karet yang memiliki kondisi yang baik.
Untuk jumlah
pelindung jika dibandingkan dengan jumlah rusa tidak sebanding. Dimana jumlah pelindung dengan luasan 1 hektar tidak
cukup untuk jumlah rusa 10 ekor. Idealnya 1 hektar hanya cukup untuk 4 ekor
rusa. Terlebih lagi cover yang ditemukan di penangkaran rusa jumlahnya hanya
sedikit. Sedangkan pohon lain nya
berfungsi sebagai shelter atau pelindung sementara yang lebih
mendominasi dan juga terdapat pohon yang tidak memiliki fungsi sama sekali. Hal
ini disebabkan pengelolaan pelindung tersebut belum maksimal dan perlu
ditingkatkan. Pihak pengelola belum melakukan perawatan maksimal untuk
pelindung. Hal ini dapat dilihat dari masih banyak pohon yang ditemukan dalam
keadaan rusak ataupun terganggu. Sehingga tidak dapat berfungsi sebagai cover.
BAB
V
KESIMPULAN
5.1
Kesimpulan
Dari hasil analisis dan
evaluasi di penangkaran rusa Mendalo diketahui bahwa rumput yang ada di dalam
penangkaran tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan pakan rusa sambar. Hal ini
disebabkan rumput yang dijadikan pakan tersebut pertumbuhanya tidak mampu
mengimbangi kebutuhan untuk pakan rusa terutama pada musim kemarau. Sehingga pihak
pengelola memberikan pakan rumput tambahan serta pakan selain rumput, yaitu
bungkil dan dedak. Pada aspek pelidung setelah di lakukan analisis dan
evaluasi, diketahui bahwa jumlah pelindung jika dibandingkan dengan jumlah rusa
tidak sebanding. Dimana jumlah pelindung
yang dapat berfungsi sebagai cover sangat sedikit. Dalam penangkaran tersebut dengan
luasan 1 hektar tidak cukup untuk jumlah rusa 10 ekor yang ada di dalam
penangkaran. Idealnya 1 hektar hanya cukup untuk 4 ekor rusa. Dalam hal
pengelolaan baik pakan dan pelindung yang perlu ditingkatkan dan lebih
diperhatikan oleh pihak pengelola. Seperti perawatan rumput dan pohon yang
dapat dijadikan pakan dan pelindung rusa sambar serta efisiensi luasan lahan
maupun pengakutan pakan.
5.2
Saran
Perlu adanya perhatian
yang lebih dari pemerintah maupun pengelola akan kondisi penangkaran tersebut
terutama dalam aspek pakan dan pelindung serta penambahan luasan areal lahan
pada penangkaran.

LAMPIRAN
Lampiran
Foto (Dokumentasi)
|
|
|||||||||||||
![]() |
||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||
|
|
|||||||||||||
![]() |
![]() |
|||||||||||||
|
|
|||||||||||||
DAFTAR
PUSTAKA
Jacoeb NT & SD Wiryosuhanto. 1994. Prospek
Budidaya Ternak Rusa, Penerbit Kanisius. Yogyakarta. (sebagai sumber kutipan)
Alikodra HS. 1990. Pengelolaan Satwaliar Jilid 1.
Bogor: Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan. (sebagai bahan bacaan)
Antaranews, Kehidupan Rusa Sambar di Desa Api-Api
Kamis, 10 April 2008 17:35 WIB | Warta Bumi, 2008. . (sebagai bahan bacaan)
Rabinowitz, A, 1997, Wildlife field research and
conservation trainnng manual, The Wildlife Society Conservation International
Programs, 185st Southern Blvd Bronx NY. . (sebagai bahan bacaan)
Semiadi, G. 1998. Budidaya rusa tropika sebagai
hewan ternak. Masyarakat Zoologi Indonesia. Jakarta. . (sebagai bahan bacaan)
Semiadi, G. 2002. Pengenalan biologi rusa: kunci
dalam pemanfaatan rusa. Seminar Prospek Penangkaran Rusa di Indonesia.
Yogyakarta. . (sebagai bahan bacaan)



