TUGAS
MANAJEMEN SATWA LIAR DAN DINAMIKA POPULASI
“RANGKUMAN
EKOLOGI DARI BEBERAPA SPESIES HERPETOFAUNA DAN KUPU-KUPU”
Disusun Oleh:
RESSY RAHMAWATI (D1D013054)
KELAS B
SEMESTER VI
Dosen Pengampu:
NOVRIYANTI, S.HUT, M.SI
JURUSAN
KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
JAMBI
2016
TAKSON
A.
HERPETOFAUNA
Dalam
herpetofauna terdapat 2 kelompok hewan, yaitu:
1.
REPTILIA
Reptil
atau reptilia dikelompokkan dalam empat ordo, yaitu : Ordo Crocodylia,
Rhynchocephalia, Squamata, dan Testudines.
- Ordo Crocodilya terdiri atas famili Gavialidae, Alligatoridae, dan Crocodylidae. Di seluruh dunia terdapat sekitar 25 spesies. Contoh jenis reptil dari ordo Crocodilya adalah buaya, alligator, dan caiman. Di Indonesia jenis reptil ini yang biasa ditemui adalah : buaya siam (Crocodylus siamensis), buaya muara (Crocodylus porosus), buaya irian (Crocodylus novaeguineae), buaya senyulong (Tomistoma schlegelii), dan buaya kalimantan (Crocodylus raninus).
- Ordo Rhynchocephalia hanya terdiri atas satu spesies yaitu Tuatara (Sphenodon punctatus) yang hidup di Selandia Baru.
- Ordo Squamata terdiri atas 9.000-an spesies yang dikelompokkan dalam 66 famili. Spesies reptil dari ordo Squamata ini terdiri atas berbagai jenis kadal dan ular. Contoh reptil dari ordo ini yang hidup di Indonesia antara lain komodo (Varanus komodoensis), tokek dan cicak (famili Gekkonidae), kadal, bunglon, biawak, ular karung (Acrochordus javanicus), ular king kobra (Ophiophagus hannah), ular kepala-dua (Cylindrophis ruffus), ular sanca bodo (Python molurus), ular tanah (Calloselasma rhodostoma).
- Ordo Testudines terdiri atas sekitar 300-an spesies yang dikelompokkan dalam 14 famili. Spesies reptil dari ordo Testudines ini terdiri atas berbagai jenis penyu, kura-kura, dan terapin. Beberapa contoh hewan reptil dari ordo Testudines yang hidup di Indonesia diantaranyaberbagai jenis kura-kura berleher ular, penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), tuntong (Batagur baska), tuntong laut (B. borneoensis), dan lain-lain. Adapun contoh beberapa reptilia secara detail antara lain :
1.1
Tuntong laut
Ekologi
Kura-kura bertubuh sedang hingga besar, panjang karapas dapat
mencapai 1.000 mm, meski kebanyakan hanya sekitar 500 mm. Rahang atas
bergerigi. Kaki depan dengan lima cakar, sedangkan kaki belakang empat cakar.
Betina berukuran lebih besar dari jantan, dengan panjang tubuh mencapai 60 cm.
Ukuran rata-rata hewan jantan berkisar antara 30 hingga 40 cm. Hewan muda
dengan tiga lunas pada perisai punggungnya, setelah dewasa yang tersisa tinggal
lunas vertebralnya.
Punggung berwarna gading atau
cokelat muda kehijau-hijauan dengan bercak-bercak yang tersusun sebagai tiga
garis hitam memanjang di tengah keping kostal dan vertebral. Kadang-kadang
dijumpai individu yang hampir seluruh punggungnya berwarna kehitaman.
a.
Penyebaran
Geografis
B. borneoensis dapat ditemukan di Asia
Tenggara bagian selatan. Jangkauannya meliputi Thailand
bagian selatan, Malaysia, dan Kalimantan.
Kura-kura ini juga dapat ditemukan di Pulau Sumatra. B.
borneoensis dapat bermigrasi hingga 3 km. Karena perdagangan hewan, kini B.
borneoensis dapat ditemukan di berbagai penjuru dunia.
b. Habitat
B. borneoensis mendiami muara dan bagian sungai yang
terpengaruh oleh pasang surut. Mereka juga mendiami daerah rawa-rawa
dan sungai kecil. Ketika musim kawin, B. borneoensis melakukan migrasi. Seperti
halnya penyu
laut, B. borneoensis betina bertelur di pasir pantai.
c. Makanan
B. borneoensis umumnya hidup sebagai herbivora.
Makanan utama mereka terdiri dari buah pohon bakau, tumbuhan yang
jatuh ke sungai, tunas, dan tumbuhan liar yang tumbuh di sisi sungai. Rumput
sungai merupakan salah satu sumber makanan terpenting bagi B. borneoensis.
Terkadang, mereka juga mau memakan sampah dapur yang dibuang oleh penduduk desa
ke sungai.
d. Status konservasi
Oleh International Union for the Conservation of Nature
(IUCN), populasi B.
borneoensis dimasukkan ke dalam kategori Kritis (CR, Critically
Endangered). Menyikapi hal ini, Pemerintah Indonesia telah mengkategorikan B.
borneoensis sebagai spesies dengan prioritas konservasi yang tinggi. Lebih
jauh lagi, B. borneoensis telah dicantumkan dalam lampiran
"Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999" tentang perlindungan hewan
dan tumbuhan.
1.2
Buaya Muara
Ekologi
Panjang tubuh buaya ini (termasuk ekor) biasanya antara 2,5
sampai 3,3 meter, namun hewan dewasa bisa mencapai 12 meter seperti yang pernah
ditemukan di Sangatta, Kalimantan Timur. Bobotnya bisa mencapai 200 kg. Moncong
spesies ini cukup lebar dan tidak punya sisik lebar pada tengkuknya. Buaya
muara dikenal sebagai buaya yang jauh lebih besar dari Buaya Nil
(Crocodylus niloticus) dan Alligator
Amerika (Alligator mississipiensis). Penyebarannya pun juga
"terluas" di dunia
a.
Penyebaran
geografis
Buaya muara memiliki wilayah perantauan mulai dari perairan Teluk
Benggala (Sri Lanka, Bangladesh,
India) hingga
perairan Polinesia
(Kepulauan
Fiji dan Vanuatu).
Sedangkan habitat favorit untuk mereka adalah perairan Indonesia
dan Australia.
b. Habitat
Buaya Muara jantang hidup sendiri (soliter) dan mempunyai
daerah teritori yang lebih luas dibanding betina. Buaya sering merendam hampir
seluruh badannya dalam air, tanpa mengganggu pernapasan dan penglihatannya
sebab lubang hidung dan mata terletak pada sisi atas kepala.
c.
Makanan
Buaya ini aktif pada siang dan malam hari. Buaya ini memangsa
siapapun yang memasuki wilayahnya. Mangsanya adalah Ikan, Amfibi, Reptilia, Burung, dan Mamalia
(termasuk mamalia besar). Buaya ini adalah salah satu dari buaya-buaya yang
berbahaya bagi Manusia. Buaya muara mampu melompat keluar dari air untuk
menyerang mangsanya.
d.
Status konservasi
Oleh IUCN Redlist
Buaya Muara dikategorikan sebagai spesies berstatus konservasi Least Concern
sejak 1996. Namun sebelumnya buaya jenis ini pernah menyandang status
Vulnerable (1990-1996) bahkan Endangered (1986-1990).
1.3 Penyu Tempayan
Ekologi
Karapas Penyu Tempayan keras dan berwarna coklat kemerahan
atau kuning-oranye. Memiliki empat pasang sisik coastal dan lima buah sisik
vertebral pada karapasnya. Bagian bawah (plastron) berwarna kuning pucat. Sisi
leher penyu bagian atas berwarna coklat sedangkan bagian bawahnya berwarna
kuning. Kepala, sewarna dengan karapas dengan 2 pasang sisik prefrontal.
Sedangkan tukik (anak penyu) berwarna coklat.
a. Penyebaran geografis
Tempat
hidupnya meliputi wilayah perairan di negara Afrika Selatan, Albania, Algeria,
Amerika Serikat, Australia, Bahamas, Bahrain, Bangladesh, Bolivarian, Belize,
Brazil, Kepulauan Cayman, China, Colombia, Costa Rica, Cuba, Cyprus, Filipina,
Eritrea, Perancis, Swiss, Grenada, Guadeloupe, Guatemala, Haiti, Honduras, dan
Indonesia.
b.
Habitat
Habitat dan daerah persebaran Penyu Tempayan sangat luas.
Meliputi perairan tropis dan subtropis di Samudera Antlantik, Hindia, Pasifik,
dan Laut Mediterania.
c. Makanan
Penyu Tempayan adalah karnivora. Saat tukik (anak), memakan
ubur-ubur, lamun (sea grass), keong, dan udang. Setelah dewasa memakan
kepiting dan kerang (dan krustasea lainnya), cumi-cumi, gurita, ikan-ikan
kecil, anemon laut, dll. Penyu ini menghancurkan mangsa dengan rahangnya yang
besar dan kuat.
d. Status konservasi
Oleh IUCN Redlist, Penyu Tempayan, bersama Penyu hijau (Chelonia
mydas), didaftar dalam status konservasi Endangered (Terancam) sejak tahun
1996. Sedangkan oleh CITES dimasukkan dalam daftar Appendix I. Di Indonesia,
semua jenis penyu, Termasuk Penyu Tempayan, termasuk hewan yang dilindungi.
1.4 Sanca bodo
Ekologi
Ular sanca bodo termasuk ular besar lantaran mampu mencapai
panjang 9 meter, meskipun rata-rata hanya mencapai 5 meter saja. Berat tubuh
Burmese Python ini mampu mencapai 160 kg.Ular sanca bodo (Python molurus)
mempunyai warna dasar kulitnya coklat muda hingga coklat tua.
a.
Penyebaran
geografis
Ular sanca bodo
tersebar di India, Bangladesh, Pakistan hingga Nepal hingga ke Indonesia, Laos,
Myanmar, Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Di Indonesia, ular sanca bodo (Python
molurus) dapat ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sumbawa, hingga
sebagian Sulawesi. Beberapa dekade terakhir, hewan melata raksasa ini juga
dapat ditemukan di hutan di Florida Amerika Serikat.
b.
Habitat
Ular sanca bodo secara
alami mendiami hutan tropis basah. Ular ini senang berada ditempat yang tidak
jauh dari air atau tempat lembab bahkan kadang di dekat pemukiman. Ular sanca
bodo lebih suka berada di tanah dari pada bergulung di pohon, tetapi sesekall
dia akan memanjat pohon untuk mendapatkan sinar matahari guna menaikkan suhu
tubuhnya.
c.
Makanan
Meskipun hewan ini
termasuk binatang nokturnal (beraktifitas di malam hari), namun sanca bodo juga
senang berkeliaran disiang hari. Hewan yang banyak dijadikan peliharaan ini ini
mematikan mangsanya dengan cara melilit tubuhnya. Makanan kesukaan sanca bodo
antara lain tikus, luwak, kera, bajing
juga hewan besar seperti babi hutan, rusa dan kijang. Selain itu mereka makan
pula burung dan ayam hutan.
d.
Status
konservasi
Ular sanca bodo
meskipun mulai langka di Indonesia tetapi populasinya masih dianggap banyak
sehingga IUCN Redlist masih melabelinya dalam status konservasi “Near
Threatened” (Hampir Terancam).
1.4
Penyu
Belimbing

Ekologi
Jenis ini bisa mudah diidentifikasi dari karapaksnya
yang berbentuk seperti garis-garis pada buah belimbing.
Karapaks
ini tidak ditutupi oleh tulang, namun hanya ditutupi oleh kulit dan daging
berminyak. Bentuk kepala dari penyu belimbing kecil, bulat dan tanpa adanya
sisik-sisik seperti halnya penyu yang lain. Mempunyai paruh yang lemah, tetapi
berbentuk tajam, tidak punya permukaan penghancur atau pelumat makanan.
a.
Penyebaran
geografis
Penyu belimbing
menyebar sangat luas di dunia. Hewan ini dapat dijumpai di perairan tropis,
subtropis, dan infratropis di Samudera
Hindia, Samudera
Pasifik, dan Samudera
Atlantik. Populasi paling besar terdapat di seluruh perairan
tropis Indo-Australia
b.
Habitat
Daerah peneluran penyu
belimbing dapat ditemukan di pantai barat Sumatera; selatan Jawa; dan daerah
tertutup di Nusa Tenggara (Kitchener, 1996). Lokasi peneluran penyu belimbing
tersebar di Indonesia terletak di Pantai Jamursba Medi, Sorong Irian Jaya dan
merupakan pantai peneluran penyu belimbing terbesar ketiga di kawasan
Indo-Pasifik
c.
Makanan
Makanan utama mereka dalah lamun laut atau alga,
yang hidup di perairan tropis da subtropik. Tetapi anak-anaknya diasumsikan
omnivore untuk mempercepat pertumbuhan tubuh mereka. Kemungkinan besar terjadi
transisi bertahap saat penyu mencapai besar yang cukup untuk dapat menghindari
predatornya.
d.
Status
konservasi
Penyu ini sekarang
menjadi sangat langka. Di Indonesia, penyu ini merupakan hewan yang dilindungi
atau tidak boleh diburu sejak tahun 1987 berdasarkan keputusan Menteri Pertanian
No. 327/Kpts/Um/5/1978
2.
AMFIBI
Amphibia terdiri dari 4 ordo yaitu Urodela (Salamander), Gymnophiona (Caecilia), dan Anura ( katak dan kodok), Proanura (telah
punah).
·
Ordo Urodela (Salamander)
Urodela mempunya
anggota sekitar 350 spesies, tersebar terbatas di
belahan bumi utara; Amerika Utara, Amerika Tengah, Asia Tengah (Cina, Jepang)
dan Eropa. Kebanyakan family-family dari urodela
terdapat di
amerika dan tidak terdapat di Indonesia.
·
Ordo Gymnophiona (Caecilia)
Ordo ini mempunyai anggota yang ciri
umumnya adalah tidak mempunyai kaki sehingga disebut Apoda. Tubuh menyerupai
cacing (gilig), bersegmen, tidak bertungkai, dan ekor mereduksi. Hewan ini
mempunyai kulit yang kompak, mata tereduksi, tertutup oleh kulit atau tulang,
retina pada beberapa spesies berfungsi sebagai fotoreseptor. Di bagian anterior
terdapat tentakel yang fungsinya sebagai organ sensory. Kelompok ini
menunjukkan 2 bentuk dalam daur hidupnya. Pada fase larva hidup dalam air dan
bernafas dengan insang. Pada fase dewasa insang mengalami reduksi, dan biasanya
ditemukan di dalam tanah atau di lingkungan akuatik. Fertilisasi pada Caecilia
terjadi secara internal. (Hidayat, 2009)
Ordo Caecilia mempunyai 5 famili
yaitu Rhinatrematidae, Ichtyopiidae, Uraeotyphilidae, Scolecomorphiidae, dan
Caecilidae.
Adapun jenis beberapa spesies amfibi
secara detail adalah sebgai berikut :
2.1
Kodok
Batu

Ekologi
Kodok yang bertubuh besar, gempal, dengan kaki yang kuat dan
paha yang berotot besar. Kodok dewasa panjangnya sekitar 70 mm, namun yang
terbesar bisa sampai dengan 150 mm SVL (snout to vent length, dari
moncong ke anus).Punggung
berwarna coklat terang hingga kemerahan atau kehitaman, dengan bercak-bercak
gelap kehitaman. Coret atau bercak kehitaman terdapat di antara kedua mata, di
pipi di depan mata, di atas timpanum, di lengan, paha dan betis. Bibir
berbelang-belang hitam dan putih.
a.
Penyebaran
geografis
Pada masa lalu kodok ini dianggap menyebar luas mulai dari India hingga ke Asia
Tenggara dan Kepulauan Nusantara. Namun kini banyak populasinya yang telah
dideskripsi dengan lebih baik dan digolongkan ke dalam spesies yang lain.
Penyebaran L. macrodon sekarang kemungkinan hanya meliputi Jawa dan Sumatra bagian
selatan.
b.
Habitat
Kodok yang
sering dijumpai di tepi saluran air dan aliran sungai yang
jernih. Jarang jauh dari aliran air. Kodok batu biasanya kawin pada saat bulan
mati, yang betina meletakkan telurnya dalam sebuah gumpalan lengket di kolam
atau genangan dekat sungai. Jumlah telurnya dapat mencapai 1000 butir.
c.
Makanan
Kodok memangsa berbagai jenis serangga yang ditemuinya. Kodok
kerap ditemui berkerumun di bawah cahaya lampu jalan atau taman, menangkapi serangga-serangga
yang tertarik oleh cahaya lampu tersebut.
d.
Status
konservasi
Populasinya yang menurun drastis IUCN Redlist memasukkannya
dalam daftar spesies Critically Endangered (Kritis) yang merupakan
tingkat keterancaman tertinggi sebelum punah.
2.2 Kodok Merah

Ekologi
Kodok Merah (Leptophryne cruentata) berukuran kecil
dan ramping. Ciri khasnya adalah wana kulitnya yang dipenuhi bintik-bintik
berwarna merah darah. Kulit katak merah berwarna hitam dengan bintik-bintik
merah atau kuning atau putih marmer. Lantaran warna merahnya yang menyerupai
darah, kodok ini biasa disebut juga sebagai katak merah.
a. Penyebaran geografis
Kodok
Merah atau Leptophryne cruentata merupakan
jenis kodok endemik yang langka.
Kodok Merah merupakan spesies ampibi endemik Jawa
Indonesia hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan
Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.
b. Habitat
Kodok
ini menyukai daerah dekat air yang mengalir deras di daerah berketinggian
antara 1.000 – 2.000 meter dpl. Habitatnya hanya diperkirakan hanya terdapat di
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman
Nasional Gunung Halimun-Salak. Selebihnya tentang perilaku Kodok Merah (Bleeding
Toad) belum banyak yang diketahui.
c. Makanan
Kodok
ini memakan berbagai jenis serangga yang ditemuinya. Kodok ini menangkapi serangga-serangga
yang ada.
d. Status Konservasi
Karena
daerah sebarannya yang sangat sempit (endemik lokal) dan populasinya yang
menurun drastis IUCN Redlist memasukkannya dalam daftar spesies Critically
Endangered (Kritis) yang merupakan tingkat keterancaman tertinggi sebelum
punah.
2.3 Katak Pipih

Ekologi
Barbourula kalimantanensis atau Katak
Kepala-pipih Kalimantan (Bornean Flat-headed Frog) sangat unik karena
tidak mempunyai paru-paru. Katak Kepala-pipih Kalimantan (Barbourula
kalimantanensis) menjadi satu-satunya katak di dunia yang tidak mempunyai paru-paru.
Untuk bernafas, amfibi langka dan unik ini sepenuhnya bernafas melalui kulitnya
a. Penyebaran
geografis
Katak Kepala-pipih Kalimantan (Barbourula kalimantanensis)
menjadi hewan endemik dengan
daerah sebaran yang hanya terbatas di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat,
Indonesia. HabitatKatak tanpa paru-paru ini hanya ditemukan di kecamatan Nanga
Pinoh, Melawi, Kalimantan Barat.
b. Habitat
Spesies ini hanya dikenal dari menempati dua daerah yaitu
Anak Sungai Kapuas di Nanga Sayan dan Sungai Kelawit, Nanga Pinoh
yang terletak di tengah-tengah hutan hujan tropis.
Katak langka ini menyukai wilayah sungai yang berair dangkal namun jernih,
dingin, berarus deras, dan berbatu-batu.
c. Makanan
Katak memangsa berbagai jenis serangga yang ditemuinya di
hutan Kalimantan.
d. Status konservasi
Katak Kepala-pipih Kalimantan
diklasifikaskan sebagai spesies Endangered (Kritis) oleh IUCN Redlist. Namun
anehnya, Si Hewan Langka Barbourula kalimantanensis ini malah luput dan tidak terdaftar sebagai hewan yang
dilindungi di Indonesia.
B. KUPU-KUPU
Dalam
taksonomi kupu-kupu termasuk sub ordo Rhopalocera ordo Lepidoptera. Ordo
Lepidoptera termasuk diantaranya kupu-kupu mempunyai kepentingan ekonomik yang
besar di negara-negara tropik maupun subtropik. Kupu-kupu mempunyai alat mulut
penghisap nektar bunga, meski ada juga jenis yang tidak pernah mengunjungi
taman bunga dan lebih suka makan getah tumbuhan, bagian hewan yang membusuk,
atau materi organik lainnya. Sedangkan larvanya pemakan tumbuh-tumbuhan
beberapa di antaranya berperan sebagai hama penting pada tanaman budidaya . Beberapa jenis kupu-kupu yang terdapat
di Indonesia merupakan jenis spesies langka dan dilindungi oleh negara. Berikut
ulasan selengkapnya.
Spesies
kupu-kupu langka
1.
Kupu-Kupu Bidadari

Nama latin: Cethosia
myrina
Nama lain: Kupu-kupu sayap renda, brown accented
butterfly
Keterangan: Kupu-kupu ini merupakan satwa endemik
di daerah Sulawesi khususnya di bagian Utara dan Selatan. Kupu-kupu ini
memiliki lebar sayap mencapai 7,5 cm
2.
Kupu-kupu sayap burung peri

Nama latin: Ornithoptera chimaera
Nama lain: Chimaera Birdwing
Status konservasi: Near
Threatened
Keterangan: dapat ditemukan di
beberapa lokasi di Papua dan Papua Nugini, kupu-kupu ini memiliki rentang sayap
yang dapat mencapai 7 hingga 15 cm pada kupu-kupu jantan.
3.
Kupu-kupu raja

Nama latin: Troides andromache
Nama lain: Borneo birdwing
Status konservasi: near
threatened
Keterangan: Kupu-kupu ini
terdapat di beberapa wilayah di Indonesia dan Malaysia dengan sayap yang besar
dan berwarna orange.
4.
Kupu-kupu Burung Titon

Nama latin: Ornithoptera tithonus
Nama lain: Tithonus birdwing
Status Konservasi IUCN Red List:
Data Deficient (DD)
Keterangan: ditemukan di
Indonesia
SUMBER :
http://www.satwa.net/133/mengintip-cantiknya-kupu-kupu-langka-yang-dilindungi-di-indonesia.html (Di akses Rabu, 03 Februari 2016)
https://id.wikipedia.org/wiki/Tuntong_laut (Di akses Rabu, 03 Februari 2016)
http://alamendah.org/2012/05/29/tuntong-laut-batagur-borneoensis-salah-satu-reptil-terlangka/(Di
akses Rabu, 03 Februari 2016)
http://alamendah.org/2014/07/26/buaya-muara-terbesar-terpanjang-dan-terganas/ (Di akses Rabu, 03 Februari 2016)
https://id.wikipedia.org/wiki/Buaya_muara (Di akses Rabu, 03 Februari 2016)
https://ndiansrirahayu.wordpress.com/2015/01/12/jenis-jenis-ular-yang-dilindungi/ (di akses Rabu, 03 Februari 2016)
http://alamendah.org/2010/08/03/ular-sanca-bodo-python-molurus/ (Di akses Rabu, 03 Februari 2016)
http://alamendah.org/2015/01/16/daftar-amphibi-paling-langka-di-indonesia/ (Di akses Rabu, 03 Februari 2016)