Senin, 08 Februari 2016

Tugas Manajemen Perilaku Satwa Liar Dan Dinamika Populasi



TUGAS MANAJEMEN SATWA LIAR DAN DINAMIKA POPULASI
“RANGKUMAN EKOLOGI DARI BEBERAPA SPESIES HERPETOFAUNA DAN KUPU-KUPU”




Disusun Oleh:
RESSY RAHMAWATI (D1D013054)
KELAS B
SEMESTER VI

Dosen Pengampu:
NOVRIYANTI, S.HUT, M.SI







JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016
TAKSON

A.    HERPETOFAUNA
Dalam herpetofauna terdapat 2 kelompok hewan, yaitu:
1.      REPTILIA
Reptil atau reptilia dikelompokkan dalam empat ordo, yaitu : Ordo Crocodylia, Rhynchocephalia, Squamata, dan Testudines.
  • Ordo Crocodilya terdiri atas famili Gavialidae, Alligatoridae, dan Crocodylidae. Di seluruh dunia terdapat sekitar 25 spesies. Contoh jenis reptil dari ordo Crocodilya adalah buaya, alligator, dan caiman. Di Indonesia jenis reptil ini yang biasa ditemui adalah : buaya siam (Crocodylus siamensis), buaya muara (Crocodylus porosus), buaya irian (Crocodylus novaeguineae), buaya senyulong (Tomistoma schlegelii), dan buaya kalimantan (Crocodylus raninus).
  • Ordo Rhynchocephalia hanya terdiri atas satu spesies yaitu Tuatara (Sphenodon punctatus) yang hidup di Selandia Baru.
  • Ordo Squamata terdiri atas 9.000-an spesies yang dikelompokkan dalam 66 famili. Spesies reptil dari ordo Squamata ini terdiri atas berbagai jenis kadal dan ular. Contoh reptil dari ordo ini yang hidup di Indonesia antara lain komodo (Varanus komodoensis), tokek dan cicak (famili Gekkonidae), kadal, bunglon, biawak, ular karung (Acrochordus javanicus), ular king kobra (Ophiophagus hannah), ular kepala-dua (Cylindrophis ruffus), ular sanca bodo (Python molurus), ular tanah (Calloselasma rhodostoma).
  • Ordo Testudines terdiri atas sekitar 300-an spesies yang dikelompokkan dalam 14 famili. Spesies reptil dari ordo Testudines ini terdiri atas berbagai jenis penyu, kura-kura, dan terapin. Beberapa contoh hewan reptil dari ordo Testudines yang hidup di Indonesia diantaranyaberbagai jenis kura-kura berleher ular, penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), tuntong (Batagur baska), tuntong laut (B. borneoensis), dan lain-lain.  Adapun contoh beberapa reptilia secara detail antara lain :
1.1              Tuntong laut
 
Ekologi
Kura-kura bertubuh sedang hingga besar, panjang karapas dapat mencapai 1.000 mm, meski kebanyakan hanya sekitar 500 mm. Rahang atas bergerigi. Kaki depan dengan lima cakar, sedangkan kaki belakang empat cakar. Betina berukuran lebih besar dari jantan, dengan panjang tubuh mencapai 60 cm. Ukuran rata-rata hewan jantan berkisar antara 30 hingga 40 cm. Hewan muda dengan tiga lunas pada perisai punggungnya, setelah dewasa yang tersisa tinggal lunas vertebralnya.
Punggung berwarna gading atau cokelat muda kehijau-hijauan dengan bercak-bercak yang tersusun sebagai tiga garis hitam memanjang di tengah keping kostal dan vertebral. Kadang-kadang dijumpai individu yang hampir seluruh punggungnya berwarna kehitaman.

a.      Penyebaran Geografis
B. borneoensis dapat ditemukan di Asia Tenggara bagian selatan. Jangkauannya meliputi Thailand bagian selatan, Malaysia, dan Kalimantan. Kura-kura ini juga dapat ditemukan di Pulau Sumatra. B. borneoensis dapat bermigrasi hingga 3 km. Karena perdagangan hewan, kini B. borneoensis dapat ditemukan di berbagai penjuru dunia.

b.   Habitat
B. borneoensis mendiami muara dan bagian sungai yang terpengaruh oleh pasang surut. Mereka juga mendiami daerah rawa-rawa dan sungai kecil. Ketika musim kawin, B. borneoensis melakukan migrasi. Seperti halnya penyu laut, B. borneoensis betina bertelur di pasir pantai.

c.  Makanan
B. borneoensis umumnya hidup sebagai herbivora. Makanan utama mereka terdiri dari buah pohon bakau, tumbuhan yang jatuh ke sungai, tunas, dan tumbuhan liar yang tumbuh di sisi sungai. Rumput sungai merupakan salah satu sumber makanan terpenting bagi B. borneoensis. Terkadang, mereka juga mau memakan sampah dapur yang dibuang oleh penduduk desa ke sungai.

d.  Status konservasi
Oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN), populasi B. borneoensis dimasukkan ke dalam kategori Kritis (CR, Critically Endangered). Menyikapi hal ini, Pemerintah Indonesia telah mengkategorikan B. borneoensis sebagai spesies dengan prioritas konservasi yang tinggi. Lebih jauh lagi, B. borneoensis telah dicantumkan dalam lampiran "Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999" tentang perlindungan hewan dan tumbuhan.



1.2               Buaya Muara


Ekologi
Panjang tubuh buaya ini (termasuk ekor) biasanya antara 2,5 sampai 3,3 meter, namun hewan dewasa bisa mencapai 12 meter seperti yang pernah ditemukan di Sangatta, Kalimantan Timur. Bobotnya bisa mencapai 200 kg. Moncong spesies ini cukup lebar dan tidak punya sisik lebar pada tengkuknya. Buaya muara dikenal sebagai buaya yang jauh lebih besar dari Buaya Nil (Crocodylus niloticus) dan Alligator Amerika (Alligator mississipiensis). Penyebarannya pun juga "terluas" di dunia

a.      Penyebaran geografis
Buaya muara memiliki wilayah perantauan mulai dari perairan Teluk Benggala (Sri Lanka, Bangladesh, India) hingga perairan Polinesia (Kepulauan Fiji dan Vanuatu). Sedangkan habitat favorit untuk mereka adalah perairan Indonesia dan Australia.

b.     Habitat
Buaya Muara jantang hidup sendiri (soliter) dan mempunyai daerah teritori yang lebih luas dibanding betina. Buaya sering merendam hampir seluruh badannya dalam air, tanpa mengganggu pernapasan dan penglihatannya sebab lubang hidung dan mata terletak pada sisi atas kepala.

c.       Makanan
Buaya ini aktif pada siang dan malam hari. Buaya ini memangsa siapapun yang memasuki wilayahnya. Mangsanya adalah Ikan, Amfibi, Reptilia, Burung, dan Mamalia (termasuk mamalia besar). Buaya ini adalah salah satu dari buaya-buaya yang berbahaya bagi Manusia. Buaya muara mampu melompat keluar dari air untuk menyerang mangsanya.

d.      Status konservasi
Oleh IUCN Redlist Buaya Muara dikategorikan sebagai spesies berstatus konservasi Least Concern sejak 1996. Namun sebelumnya buaya jenis ini pernah menyandang status Vulnerable (1990-1996) bahkan Endangered (1986-1990).

1.3              Penyu Tempayan



Ekologi
Karapas Penyu Tempayan keras dan berwarna coklat kemerahan atau kuning-oranye. Memiliki empat pasang sisik coastal dan lima buah sisik vertebral pada karapasnya. Bagian bawah (plastron) berwarna kuning pucat. Sisi leher penyu bagian atas berwarna coklat sedangkan bagian bawahnya berwarna kuning. Kepala, sewarna dengan karapas dengan 2 pasang sisik prefrontal. Sedangkan tukik (anak penyu) berwarna coklat.

a.       Penyebaran geografis
            Tempat hidupnya meliputi wilayah perairan di negara Afrika Selatan, Albania, Algeria, Amerika Serikat, Australia, Bahamas, Bahrain, Bangladesh, Bolivarian, Belize, Brazil, Kepulauan Cayman, China, Colombia, Costa Rica, Cuba, Cyprus, Filipina, Eritrea, Perancis, Swiss, Grenada, Guadeloupe, Guatemala, Haiti, Honduras, dan Indonesia.

b.      Habitat
Habitat dan daerah persebaran Penyu Tempayan sangat luas. Meliputi perairan tropis dan subtropis di Samudera Antlantik, Hindia, Pasifik, dan Laut Mediterania.

c.       Makanan
Penyu Tempayan adalah karnivora. Saat tukik (anak), memakan ubur-ubur, lamun (sea grass), keong, dan udang. Setelah dewasa memakan kepiting dan kerang (dan krustasea lainnya), cumi-cumi, gurita, ikan-ikan kecil, anemon laut, dll. Penyu ini menghancurkan mangsa dengan rahangnya yang besar dan kuat.

d.      Status konservasi
Oleh IUCN Redlist, Penyu Tempayan, bersama Penyu hijau (Chelonia mydas), didaftar dalam status konservasi Endangered (Terancam) sejak tahun 1996. Sedangkan oleh CITES dimasukkan dalam daftar Appendix I. Di Indonesia, semua jenis penyu, Termasuk Penyu Tempayan, termasuk hewan yang dilindungi.
1.4 Sanca bodo


Ekologi
Ular sanca bodo termasuk ular besar lantaran mampu mencapai panjang 9 meter, meskipun rata-rata hanya mencapai 5 meter saja. Berat tubuh Burmese Python ini mampu mencapai 160 kg.Ular sanca bodo (Python molurus) mempunyai warna dasar kulitnya coklat muda hingga coklat tua.

a.      Penyebaran geografis
Ular sanca bodo tersebar di India, Bangladesh, Pakistan hingga Nepal hingga ke Indonesia, Laos, Myanmar, Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Di Indonesia, ular sanca bodo (Python molurus) dapat ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sumbawa, hingga sebagian Sulawesi. Beberapa dekade terakhir, hewan melata raksasa ini juga dapat ditemukan di hutan di Florida Amerika Serikat.

b.      Habitat
Ular sanca bodo secara alami mendiami hutan tropis basah. Ular ini senang berada ditempat yang tidak jauh dari air atau tempat lembab bahkan kadang di dekat pemukiman. Ular sanca bodo lebih suka berada di tanah dari pada bergulung di pohon, tetapi sesekall dia akan memanjat pohon untuk mendapatkan sinar matahari guna menaikkan suhu tubuhnya.

c.       Makanan
Meskipun hewan ini termasuk binatang nokturnal (beraktifitas di malam hari), namun sanca bodo juga senang berkeliaran disiang hari. Hewan yang banyak dijadikan peliharaan ini ini mematikan mangsanya dengan cara melilit tubuhnya. Makanan kesukaan sanca bodo antara lain tikus, luwak, kera, bajing juga hewan besar seperti babi hutan, rusa dan kijang. Selain itu mereka makan pula burung dan ayam hutan.

d.      Status konservasi
Ular sanca bodo meskipun mulai langka di Indonesia tetapi populasinya masih dianggap banyak sehingga IUCN Redlist masih melabelinya dalam status konservasi “Near Threatened” (Hampir Terancam).
1.4              Penyu Belimbing

penyu belimbing

Ekologi
Jenis ini bisa mudah diidentifikasi dari karapaksnya yang berbentuk seperti garis-garis pada buah belimbing. Karapaks ini tidak ditutupi oleh tulang, namun hanya ditutupi oleh kulit dan daging berminyak. Bentuk kepala dari penyu belimbing kecil, bulat dan tanpa adanya sisik-sisik seperti halnya penyu yang lain. Mempunyai paruh yang lemah, tetapi berbentuk tajam, tidak punya permukaan penghancur atau pelumat makanan.

a.                  Penyebaran geografis
Penyu belimbing menyebar sangat luas di dunia. Hewan ini dapat dijumpai di perairan tropis, subtropis, dan infratropis di Samudera Hindia, Samudera Pasifik, dan Samudera Atlantik. Populasi paling besar terdapat di seluruh perairan tropis Indo-Australia

b.                  Habitat
Daerah peneluran penyu belimbing dapat ditemukan di pantai barat Sumatera; selatan Jawa; dan daerah tertutup di Nusa Tenggara (Kitchener, 1996). Lokasi peneluran penyu belimbing tersebar di Indonesia terletak di Pantai Jamursba Medi, Sorong Irian Jaya dan merupakan pantai peneluran penyu belimbing terbesar ketiga di kawasan Indo-Pasifik

c.                   Makanan
Makanan utama mereka dalah lamun laut atau alga, yang hidup di perairan tropis da subtropik. Tetapi anak-anaknya diasumsikan omnivore untuk mempercepat pertumbuhan tubuh mereka. Kemungkinan besar terjadi transisi bertahap saat penyu mencapai besar yang cukup untuk dapat menghindari predatornya.

d.                  Status konservasi
Penyu ini sekarang menjadi sangat langka. Di Indonesia, penyu ini merupakan hewan yang dilindungi atau tidak boleh diburu sejak tahun 1987 berdasarkan keputusan Menteri Pertanian No. 327/Kpts/Um/5/1978
2.                  AMFIBI
            Amphibia terdiri dari 4 ordo yaitu Urodela (Salamander), Gymnophiona (Caecilia), dan Anura ( katak dan kodok), Proanura (telah punah).
·         Ordo Urodela (Salamander)
Urodela mempunya anggota sekitar 350 spesies, tersebar terbatas di belahan bumi utara; Amerika Utara, Amerika Tengah, Asia Tengah (Cina, Jepang) dan Eropa. Kebanyakan family-family dari urodela terdapat di amerika dan tidak terdapat di Indonesia.
·         Ordo Gymnophiona (Caecilia)
Ordo ini mempunyai anggota yang ciri umumnya adalah tidak mempunyai kaki sehingga disebut Apoda. Tubuh menyerupai cacing (gilig), bersegmen, tidak bertungkai, dan ekor mereduksi. Hewan ini mempunyai kulit yang kompak, mata tereduksi, tertutup oleh kulit atau tulang, retina pada beberapa spesies berfungsi sebagai fotoreseptor. Di bagian anterior terdapat tentakel yang fungsinya sebagai organ sensory. Kelompok ini menunjukkan 2 bentuk dalam daur hidupnya. Pada fase larva hidup dalam air dan bernafas dengan insang. Pada fase dewasa insang mengalami reduksi, dan biasanya ditemukan di dalam tanah atau di lingkungan akuatik. Fertilisasi pada Caecilia terjadi secara internal. (Hidayat, 2009)
Ordo Caecilia mempunyai 5 famili yaitu Rhinatrematidae, Ichtyopiidae, Uraeotyphilidae, Scolecomorphiidae, dan Caecilidae.
Adapun jenis beberapa spesies amfibi secara detail adalah sebgai berikut :

2.1              Kodok Batu

Limnon macrod 050303 062 pncw.jpg
Ekologi
Kodok yang bertubuh besar, gempal, dengan kaki yang kuat dan paha yang berotot besar. Kodok dewasa panjangnya sekitar 70 mm, namun yang terbesar bisa sampai dengan 150 mm SVL (snout to vent length, dari moncong ke anus).Punggung berwarna coklat terang hingga kemerahan atau kehitaman, dengan bercak-bercak gelap kehitaman. Coret atau bercak kehitaman terdapat di antara kedua mata, di pipi di depan mata, di atas timpanum, di lengan, paha dan betis. Bibir berbelang-belang hitam dan putih.
a.                  Penyebaran geografis
Pada masa lalu kodok ini dianggap menyebar luas mulai dari India hingga ke Asia Tenggara dan Kepulauan Nusantara. Namun kini banyak populasinya yang telah dideskripsi dengan lebih baik dan digolongkan ke dalam spesies yang lain. Penyebaran L. macrodon sekarang kemungkinan hanya meliputi Jawa dan Sumatra bagian selatan.

b.                  Habitat
            Kodok yang sering dijumpai di tepi saluran air dan aliran sungai yang jernih. Jarang jauh dari aliran air. Kodok batu biasanya kawin pada saat bulan mati, yang betina meletakkan telurnya dalam sebuah gumpalan lengket di kolam atau genangan dekat sungai. Jumlah telurnya dapat mencapai 1000 butir.

c.       Makanan
Kodok memangsa berbagai jenis serangga yang ditemuinya. Kodok kerap ditemui berkerumun di bawah cahaya lampu jalan atau taman, menangkapi serangga-serangga yang tertarik oleh cahaya lampu tersebut.

d.      Status konservasi
Populasinya yang menurun drastis IUCN Redlist memasukkannya dalam daftar spesies Critically Endangered (Kritis) yang merupakan tingkat keterancaman tertinggi sebelum punah.

2.2 Kodok Merah

Kodok Merah (Leptophyrne cruentata)
Ekologi
Kodok Merah (Leptophryne cruentata) berukuran kecil dan ramping. Ciri khasnya adalah wana kulitnya yang dipenuhi bintik-bintik berwarna merah darah. Kulit katak merah berwarna hitam dengan bintik-bintik merah atau kuning atau putih marmer. Lantaran warna merahnya yang menyerupai darah, kodok ini biasa disebut juga sebagai katak merah.


a.       Penyebaran geografis
Kodok Merah atau Leptophryne cruentata merupakan jenis kodok endemik yang langka. Kodok Merah merupakan spesies ampibi endemik Jawa Indonesia hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.

b.      Habitat
Kodok ini menyukai daerah dekat air yang mengalir deras di daerah berketinggian antara 1.000 – 2.000 meter dpl. Habitatnya hanya diperkirakan hanya terdapat di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Selebihnya tentang perilaku Kodok Merah (Bleeding Toad) belum banyak yang diketahui.

c.       Makanan
Kodok ini memakan berbagai jenis serangga yang ditemuinya. Kodok ini menangkapi serangga-serangga yang ada.

d.      Status Konservasi
Karena daerah sebarannya yang sangat sempit (endemik lokal) dan populasinya yang menurun drastis IUCN Redlist memasukkannya dalam daftar spesies Critically Endangered (Kritis) yang merupakan tingkat keterancaman tertinggi sebelum punah.

2.3   Katak Pipih
Katak Kepala-pipih Kalimantan (Barbourula kalimantanensis) 3
Ekologi
Barbourula kalimantanensis atau Katak Kepala-pipih Kalimantan (Bornean Flat-headed Frog) sangat unik karena tidak mempunyai paru-paru. Katak Kepala-pipih Kalimantan (Barbourula kalimantanensis) menjadi satu-satunya katak di dunia yang tidak mempunyai paru-paru. Untuk bernafas, amfibi langka dan unik ini sepenuhnya bernafas melalui kulitnya
a.      Penyebaran geografis
Katak Kepala-pipih Kalimantan (Barbourula kalimantanensis) menjadi hewan endemik dengan daerah sebaran yang hanya terbatas di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, Indonesia. HabitatKatak tanpa paru-paru ini hanya ditemukan di kecamatan Nanga Pinoh, Melawi, Kalimantan Barat.

b.      Habitat
Spesies ini hanya dikenal dari menempati dua daerah yaitu Anak Sungai Kapuas di Nanga Sayan dan  Sungai Kelawit, Nanga Pinoh yang terletak di tengah-tengah hutan hujan tropis. Katak langka ini menyukai wilayah sungai yang berair dangkal namun jernih, dingin, berarus deras, dan berbatu-batu.

c.       Makanan
Katak memangsa berbagai jenis serangga yang ditemuinya di hutan Kalimantan.

d.      Status konservasi
Katak Kepala-pipih Kalimantan diklasifikaskan sebagai spesies Endangered (Kritis) oleh IUCN Redlist. Namun anehnya, Si Hewan Langka Barbourula kalimantanensis ini malah luput dan tidak terdaftar sebagai hewan yang dilindungi di Indonesia.



B. KUPU-KUPU
Dalam taksonomi kupu-kupu termasuk sub ordo Rhopalocera ordo Lepidoptera. Ordo Lepidoptera termasuk diantaranya kupu-kupu mempunyai kepentingan ekonomik yang besar di negara-negara tropik maupun subtropik. Kupu-kupu mempunyai alat mulut penghisap nektar bunga, meski ada juga jenis yang tidak pernah mengunjungi taman bunga dan lebih suka makan getah tumbuhan, bagian hewan yang membusuk, atau materi organik lainnya. Sedangkan larvanya pemakan tumbuh-tumbuhan beberapa di antaranya berperan sebagai hama penting pada tanaman budidaya . Beberapa jenis kupu-kupu yang terdapat di Indonesia merupakan jenis spesies langka dan dilindungi oleh negara. Berikut ulasan selengkapnya.


Spesies kupu-kupu langka
1.       Kupu-Kupu Bidadari
kupu-kupu sayap bidadari
Nama latin: Cethosia myrina
Nama lain: Kupu-kupu sayap renda, brown accented butterfly
Keterangan: Kupu-kupu ini merupakan satwa endemik di daerah Sulawesi khususnya di bagian Utara dan Selatan. Kupu-kupu ini memiliki lebar sayap mencapai 7,5 cm
2.      Kupu-kupu sayap burung peri
kupu-kupu sayap burung peri
Nama latin: Ornithoptera chimaera
Nama lain: Chimaera Birdwing
Status konservasi: Near Threatened
Keterangan: dapat ditemukan di beberapa lokasi di Papua dan Papua Nugini, kupu-kupu ini memiliki rentang sayap yang dapat mencapai 7 hingga 15 cm pada kupu-kupu jantan.
3.      Kupu-kupu raja
kupu-kupu raja
Nama latin: Troides andromache
Nama lain: Borneo birdwing
Status konservasi: near threatened
Keterangan: Kupu-kupu ini terdapat di beberapa wilayah di Indonesia dan Malaysia dengan sayap yang besar dan berwarna orange.

4.      Kupu-kupu Burung Titon
kupu-kupu burung titon
Nama latin: Ornithoptera tithonus
Nama lain: Tithonus birdwing
Status Konservasi IUCN Red List: Data Deficient (DD)
Keterangan: ditemukan di Indonesia








SUMBER :

https://id.wikipedia.org/wiki/Tuntong_laut (Di akses Rabu, 03 Februari 2016)



https://id.wikipedia.org/wiki/Buaya_muara (Di akses Rabu, 03 Februari 2016)









Tidak ada komentar:

Posting Komentar